Home / Berita Kompolnas / Tugas Polri Semakin Berat di Masa Pandemi

Tugas Polri Semakin Berat di Masa Pandemi

Upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia membutuhkan kedisiplinan pada banyak aspek terutama kehidupan sosial masyarakat. Dalam situasi pandemi diperlukan disiplin yang sangat ketat terhadap kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk physical distancing. Metode ini dianggap sebagai upaya yang paling efektif untuk mencegah dan mengurangi angka penyebaran virus ini.

Pemerintah memperkuat kewajiban physical distancing melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Perrbatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes) No. 9 Tahun 2020. Aturan ini harus dipatuhi dan untuk memastikan kepatuhan tersebut, Polri menjadi garda terdepan.

Dalam konteks inilah, selain tenaga medis, Polri dapat disebut sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Keberhasilan PSBB memang tergantung dari kesadaran dan kedisiplinan masyarakat, namun untuk memastikan keduanya berjalan, diperlukan peran Polri di dalamnya.

Peran Polri yang demikian krusial dan signifikan untuk mencegah penyebaran Covid-19 tentu menjadi tugas “tambahan” yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Polri, pada satu sisi memiliki tugas-tugas rutin sebagai aparat penegak hukum dan penjaga ketertiban umum, sementara di sisi lain menjadi pihak yang diandalkan untuk menegakkan aturan PSBB,

Sejak awal kasus Covid 19 ditemukan di Indonesia. Polri langsung bergerak. Banyak yang memuji-muji namun masih ada pula kritik pedas. Bagaimana penilaian Kompolnas terkait peran aktif Polri dalam pencegahan pandemi ini.

Berikut wawancara wartawan Forum dengan Poengky Indarti S.H., LL.M. Komisioner Komisi Kepolisian Nasional, pada Jumat, 26 Juni 2020. Nukilannya;

Sejak awal terjadinya Pandemi Covid 19, Polri berperan aktif dalam aksi pencegahan maupun penanganan Pandemi ini, bagaimana penilaian Anda?

Polri berperan sangat aktif dalam membantu Pemerintah mengatasi pandemi Covid-19. Pada masa transisi menuju kehidupan Normal Baru, Polri juga sangat sigap melaksanakan perintah Presiden untuk mengawal.

Polri melaksanakan upaya-upaya sebagai berikut: Pertama, preventif: menerbitkan Surat Telegram Rahasia untuk panduan anggota melaksanakan Tindakan-tindakan pada masa pandemi dan masa transisi Normal Baru, Binmas, Sabhara, Lalu Lintas dan satker-satker lainnya terlibat aktif memberikan informasi dan penyadaran pada masyarakat. Bersama-sama dengan Pemerintah Daerah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan memanfaatkan teknologi, misalnya dengan CCTV, drone, aplikasi-aplikasi online. Merangkul masyarakat dengan humanis, sehingga masyarakat yang terdampak Covid-19 secara kesehatan maupun secara ekonomi dapat survive.

Kedua: preemtif: melakukan patrol-patroli dan razia-razia untuk mencegah kejahatan.

Lalu yang ketiga: penegakan hukum sebagai upaya terakhir bagi orang-orang yang melakukan perlawanan meski melanggar, termasuk memerintahkan pengendara motor dan mobil untuk putar balik karena larangan mudik Lebaran.

Maklumat Kapolri terkait Pandemi ini menjadi dasar kegiatan, apakah seluruh wilayah sudah mampu menjalankan maklumat tersebut?

Polri sudah mampu menegakkan Maklumat Kapolri. Masyarakat mayoritas sadar dan mematuhi. Meski ada juga masyarakat yang masih melanggar karena ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan bahaya Covid-19, dan ada juga yang menganggap sepele Covid-19 dan tidak melaksanakan Protokoler Covid-19. Oleh karena itu Polri membantu memberikan sosialisasi pada masyarakat dan dengan bantuan media massa Maklumat Kapolri dapat tersebar luas di seluruh Indonesia.

Banyak kejadian terkait Pandemil misalnya pengambilan paksa jenasah pasien Covid-19 lalu masyarakat menolak penguburan jenasah Covid-19. Meski telah ditindak namun kejadian masih berulang. Apakah polisi kurang tegas dalam hal ini?

Pengambilan jenazah korban Covid-19 ada beberapa sebab. Ada yang karena ketidaktahuan, ada yang karena dihasut atau termakan berita hoax yang disebarkan pihak-pihak yang bertujuan mengganggu harkamtibmas. Oleh karena itu Polri sigap menangani dengan penegakan hukum, termasuk lidik sidik oleh Cyber Polri, Intelkam melakukan deteksi dini dan Binmas melakukan upaya penyadaran pada masyarakat. Dalam pencegahanya institusi Polri juga harus menerapkan protokol kesehatan di lingkungan Polri.

Bagaimana Anda melihat tahanan Polri di polsek, polres, maupun polda. Apakah Polri mampu menjalankan protokol tersebut?

Kami mellhat Polri sudah menerapkan Protokol Covid-19. Ada aturan yg diberlakukan pada anggota dan pada tamu. Demikian pub di ruang tahanan juga diterapkan Protokol Cavid-19, antara lain membersihkan ruang tahanan, jaga jarak aman dan menyemprotkan disinfektan. Pemeriksaari saksi dan tersangka sesuai Protokol Covid-19, Tahanan diperiksa kesehatannya, diajak berjemur dan berolah raga. Aturan bezoek tahanan oleh Keluarga ditiadakan dan diganti menjadi komunikasi melalui video call, bagi tahanan yang diduga tertular Covid-19 akan ditangani sesuai prosedur Covid-19.

Meski polisi menjadi bagian dan Garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 namun tugas utama Polri sebagai pelindungi dan pengayom masyarakat juga harus berjalan. Apakah semua sudah sesuai harapan?

Saya melinat sudah melebihi harapan. Tugas Polri jadi semakin brat pada masa pandemi Covid-19. Tetapi Polri di seluruh Indonesia mencoba maksimal dengan membuat indvasknovasi bagi penguatan masyarakat, memberikan motivasi pada masyarakat untuk survive menghadapi pandemi Covid-19 dengan membuat misalnya Kampung Tangguh di Jawa Timur, Kampung Saga di Jawa Tengah dan Kampung Tegap Mandiri di Bangka Belitung. Masyarakat menjadi survive kesehatannya dengan secara berkala diperiksa kesehatannya dan menanamkan kebiasaan bersih dan sehat pada masyarakat; survive pangannya dengan mengajak beternak dan bercocok tanam secara mandiri; membantu masyarakat yang terdampak ekonomi akibat Covid-19.

Banyak aksi sosial yang digelar seperti Pembagan sembako, donor darah yang dilakukan Polri. Komentar Anda?

Sangat bagus! menunjukkan kepedulian Polisi dan Polisi yang humanis. Hal tersebut sesuai dengan harapan nnasyarakat agar Polisi benar-benar melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat guna terciptanya harkamtibmas pada masa pandeml Covid-19.

Anggaran untuk Polri terkait pencegahan dan penanganan Covid 19 tentu besar bagaimana kompolnas melakukan pengawasan?

Kapolri sudah tegaskan bahwa Polri akan meniridak tegas orang-orang yang melakukan tindak korupsi dana Covid-19. Pori bekerjasama dengan KPK dan Kejaksaan Agung. Ini berlaku pada semuanya, termasuk jika ada okrum anggota Polri yang melakukannya. Untuk mengawasi agar anggota Polri bersih maka ada pengawas internal Polri yaitu Propam dan Itwasum/Itwasda. Ada Kompolnas sebagai pengawas eksternal.

Sumber: Forum Keadilan, No.04, 12 Juli 2020, hlm. 54-55.