Home / Berita Kompolnas / Peran Polwan di Polri Perlu Ditingkatkan

Peran Polwan di Polri Perlu Ditingkatkan

JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia telah merespon kebutuhan dan keberadaan Polisi Wanita (Polwan). Selama dua dekade ini, Polri dianggap sudah menjawab masalah tersebut. Termasuk, keterbukan terhadap isu-isu yang menyangkut perempuan dan anak

Kendati demikian, peran Polwan dalam kepemimpinan di tubuh polri dinilai masih kurang. Kondisi ini terbukti dengan masih minimnya jajaran kepolisian dari unsur Polwan yang memegang jabatan strategis, mulai dari tingkat Polres, Polda, apalagi Mabes Polri.

“Polri secara bertahap sudah meningkatkan jumlah Polwan, serta ada pembentukan unit pelayanan perempuan dan anak di Polres, serta memperkuat koordinasi dan kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu-isu perempuan,” kata Pakar Gender dan Pakar Reformasi Sektor Keamanan, Antarini Pratiwi, dalam seminar Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) “Peningkatan Peran Polisi Wanita Dalam Mewujudkan Polri yang Profesional, Modern, dan Terpercaya”, Senin (25/9) di Jakarta.

Antarini juga mencontohkan, melalui unit pelayanan perempuan dan anak di Polres, kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan kasus Kekerasan Terhadap Anak (KTA) dibanding jumlah penyidik perempuan yang menangani memiliki perbandingan yang sangat tidak seimbang. Ada sekitar 298.286 kasus KTP yang ditangani hanya sekitar 241 penyidik perempuan.

“Saya menyarankan kepada Polri dan Kompolnas, agar diperlukan perubahan komposisi gender agar kasus-kasus KTP dan KTA dapat ditangani dengan baik,” ungkapnya.

Diingatkan, bangsa Indonesia memiliki banyak tantangan kedepannya. Tidak hanya ancaman terhadap kebhinnekaan dan kebangsaan, kedepannya Indonesia juga menghadapi ancaman terhadap tubuh perempuan dan anak perempuan.

“Mempromosikan poligami, merupakan teror terhadap tubuh perempuan. Karena itu, saya juga merekomendasikan kepada kompolnas dan polisi agar memperkuat analisis problem keamanan dan memperkuat kepemimpinan perempuan,” ujarnya.

Menurutnya, kepemimpinan perempuan di tubuh Polri dirasa cukup penting karena kepemimpinan perempuan berorientasi pada humanisme dan less conflict. Selain itu, pengalaman hidup yang kompleks dari perempuan membuat kepemimpinannya tahan menghadapi problem yang kompleks.

Dalam proses negosiasi, perempuan juga tidak mengedepankan ancaman, kepemimpinan perempuan, sangat strategis dalam merespon masalah kekerasan berbasis gender. Kepemimpinan perempuan cenderung berorientasi pada keamanan insani daripada keamanan negara.

Kepemimpinan perempuan seperti inilah yang merupakan aset bagi Polri untuk menghadapi masalah dan tantangan yang sudah sedemikian kompleks yang dihadapi bangsa.

Bagi Polri sendiri, ada sejumlah langkah untuk dapat lebih meningkatkan keterlibatan perempuan di dalam institusinya. Diantaranya adalah melalui proses rekruitmen, perubahan sistem dan prosedur karier yang terbuka dan memfasilitasi kepemimpinan perempuan.

Mantan Kepala Sekolah Pembentukan Perwira (Kasetukpa) Lemdikpol Polri, Brigjen Pol (Purn) Sri Handayani, menuturkan, selama mengemban berbagai jabatan penting di Kepolisian, sebenarnya tidak ada perbedaan antara Polwan dengan Polki.

“Tetapi jika ada segelintir Polwan yang melakukan pelanggaran, maka akan berpengaruh terhadap nama polwan di seluruh Indonesia,” katanya.

Mantan Kapolres Sragen dan Karanganyar itu menuturkan, Polwan di Indonesia sangat bisa diandalkan dan bisa mengangkat institusi Polri jika semua tugas yang diberikan dijalankan sesuai dengan amanah. Dari berbagai perjalanan kariernya, Sri Handayani mengingatkan agar para Polwan yang masih aktif untuk selalu mengembangkan kreatifitas dan inovasi. [jco]

sumber:
http://ican.co.id/peran-polwan-polri-perlu-ditingkatkan-75.html