Home / Berita Polri / Mutasi Polri: Harapan Reformasi Tetap Mengemuka

Mutasi Polri: Harapan Reformasi Tetap Mengemuka

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah perwira tinggi (Pati) Polri di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Kamis (24/1/2019). (Suara.com/Arga)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah perwira tinggi (Pati) Polri di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Kamis (24/1/2019). (Suara.com/Arga)

 

JAKARTA. KOMPAS — Mutasi atau pergantian sejumlah jabatan utama di Kepolisian Negara RI. terutama Kepala Badan Reserse Kriminal Polri serta Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, diharapkan mampu melanjutkan upaya reformasi Polri di bidang reserse dan pembinaan personel. Selain itu. Inspektur Jenderal Idham Azis yang akan menjabat Kepala Bareskrim Polri dinilai perlu menyelesaikan pekerjaan rumah terkait kasus teror terhadap pegawai dan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dalam stint telegram bernomor ST/188/I/KEP/2019 yang dikeluarkan Selasa (22/1/2019). Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian memberikan promosi kepada Idham dari jabatan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya menjadi Kepala Bareskrim Polri. Atas penunjukan itu, ldham akan menerima kenaikan pangkat menjadi bintang tiga.

Sementara Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto akan ditugaskan sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Pengganti Idham sebagai Kepala Polda Metro Jaya adalah Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono yang kini menjabat Asisten Kepala Polri Bidang Perencanaan (Asrena) sekaligus Ketua Satuan Tugas Nusantara Polri.

“Pergantian jabatan itu bertujuan sebagai penyegaran sehingga Polri dapat semakin kuat dan optimal melayani dan mengayomi masyarakat, memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, serta menegakan hukum,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal, Selasa (22/1/2019), di Jakarta.

lqbal memastikan proses mutasi don promosi itu merupakan bagian dari jenjang karier setiap perwira tinggi tersebut. Proses itu telah melalui pertimbangan Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Polri.

Selain jabatan di atas, surat telegram tersebut juga mengumumkan pergantian di sejumlah jabatan utama PoIri. Komandan Korps Brigade Mobil PoIri akan diamanatkan kepada Irjen Ilham Salahudin. Irjen Rudy Sufahriadi yang sebelumnya menjabat Komandan Korps Brimob akan diangkat sebagai Asisten Kepala PoIri Bidang Operasi.

Irjen Agung Sabar Santoso akan menggantikan Gatot sebagai Asrena PoIri serta Kepala Polda Sulawesi Selatan akan diemban Irjen Hamidin.

Dihubungi secara terpisah, komisioner Komisi Kepolisian Nasional, Poengky Indarti, berharap Idham mampu melanjutkan kinerja Arief dalam lima bulan terakhir, terutama meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan profesionalitas anggota reserse. Langkah-langkah penyidikan berbasis ilmiah yang dilakukan

Bareskrim Polri, misalnya dalam kasus hoaks tujuh kontainer pembawa surat suara tercoblos dan hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet, bisa terus dikembangkan dan menjadi basis penanganan kasus.

“Penegakan hukum masih jadi sorotan masyarakat. Harapan masyarakat agar reserse Polri semakin profesional menyelesaikan kasus, bersih, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia harus diwujudkan,” kata Poengky.

Pembenahan personel Polri yang dilakukan Arief saat menjabat Asisten Kepala Polri Bidang Sumber Daya Manusia, ujar Poengky, dapat menjadi bekal memimpin Lemdiklat Polri. Menurut dia, Arief memiliki modal mencerdaskan dan meningkatkan profesionalitas anggota Polri lewat metode-metode yang dapat disusun Lemdiklat Polri.

Utang kasus

Poengky juga menekankan, pekerjaan rumah kasus besar yang harus diselesaikan Idham antara lain kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, dan teror di rumah pimpinan KPK. “Kasus Novel jadi PR Idham di Polda Metro Jaya sehingga saat menjadi kepala Bareskrim diharapkan menjadi prioritas untuk dituntaskan,” ujarnya.

Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad lsnur menambahkan, jika Idham benar-benar serius mengungkap kasus Novel, seharusnya tak sulit dan tak lama penyelesaiannya. (SAN)

 

Sumber: Harian Kompas – 23/01/2019