Home / Berita Polri / Kriminolog Tanggapi Petugas Tembak Mati Pria Ngamuk di Kantor Polisi: Dilumpuhkan Bukan Dimatikan

Kriminolog Tanggapi Petugas Tembak Mati Pria Ngamuk di Kantor Polisi: Dilumpuhkan Bukan Dimatikan

Kamis, 12 Maret 2020 17:30

Kriminolog Tanggapi Petugas Tembak Mati Pria Ngamuk di Kantor Polisi: Dilumpuhkan Bukan Dimatikan

TRIBUNJAMBI.COM – Sedang ramai jadi pembahasan, soal pengendara yang mengamuk di Markas Kepolisian Resort Meranti Riau.

Sosok pengendara itu harus meregang nyawa saat oknum polisi melepaskan tembakan ke arah pria tersebut. 

Menanggapi itu, Kriminolog dan Kompolnas meminta pihak internal Polri atau Propam mengusut petugas kepolisian yang menembak mati pria yang mengamuk di markas kepolisian resort Meranti Riau.

• Marah-marah dan Serang Polisi Pakai Badik, Pria Ini Ditembak Hingga Tewas, Berikut Kronologinya

Tak terima ditilang, seorang pria tak dikenal mengamuk dan menyerang anggota polisi dengan senjata tajam jenis badik di Polres Kepualaun MerantiRiau, hingga akhirnya ia tewas ditembak, Rabu (16/3/2020) sore.

Guru Besar Kriminolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Muhammad Mustofa mengatakan, kalau melihat konteks informasi tersebut, dalam kadar tertentu dapat dimaklumi.Namun, katanya, perlu ditelisik apakah tindakan anggota polisi tersebut sudah sesuai dengan protap atau standar operasional prosedur (SOP).

“Pertama kali dalam situasi seperti itu, tindakan polisi seharusnya bersifat melumpuhkan, bukan langsung bersifat mematikan.

Oleh karena itu, dengan atau tanpa laporan masyarakat, perlu dilakukan pemeriksaan oleh Propam Polri,” singkatnya melalui pesan tertulis kepada Kompas.com, Kamis (12/3/2020).

Sedangkan, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI Poengky Indarti mengatakan, karena ada orang yang meninggal akibat ditembak anggota Polri, maka Propam diharapkan memeriksa anggota tersebut

untuk melihat apakah penggunaan senjata api oleh anggota sudah sesuai prosedur atau tidak.

Hal itu juga sekaligus dapat menggali peristiwa dan sebab-sebab mengapa anggota harus menembak.

“Jika anggota menembak untuk membela diri dan melindungi orang-orang agar nyawanya atau nyawa orang lain dalam bahaya jika diserang oleh yang ditembak, maka penembakan tersebut dibenarkan,” katanya melalui pesan tertulis kepada Kompas.com, Kamis (12/3/2020).

“Tetapi, jika dalam pemeriksaan nantinya ditemukan bahwa pelaku penyerangan tidak membahayakan nyawa polisi dan orang-orang lain, maka anggota tersebut harus diproses hukum lebih lanjut,” sambungnya.

Dijelaskannya, berdasarkan Peraturan Kapolri nomor 8 tahun 2009 tentang Implementasi HAM, ada kewajiban bagi Propam untuk memeriksa anggota yang menggunakan senjata api.

Selain itu, sambungnya, ada kewajiban-kewajiban bagi anggota yang diberi kewenangan membawa senjata api untuk mematuhi aturan-aturan dalam Peraturan Kapolri nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dan Peraturan Kapolri nomor 8 tahun 2009 tentang Implementasi HAM.

Ketika ditanya apakah Kompolnas akan mengawasi peristiwa itu, ia pun menegaskan akan mengawasinya.

“Tentu saja. Kompolnas akan berkoordinasi dengan Pengawas Internal Polri,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pria tak dikenal menyerang anggota polisi di Polres Kepulauan Meranti, Riau, karena tak terima ditilang.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mengatakan, pelaku menyerang anggota polisi dengan menggunakan senjata tajam jenis badik.

“Pelaku terpaksa dilumpuhkan karena membahayakan keselamatan petugas yang berada di ruang penjagaan. Pelaku MD (meninggal dunia) di tempat,” kata Sunarto dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (12/3/2020).

Dijelaskan Sunarto, awalnya pria berjaket hitam dan membawa tas hitam itu membuat resah masyarakat dengan cara menghadang setiap pengendara sepeda motor yang melintasi Jalan Insit.

Pria itu juga menghadang anggota SPK Polres Meranti bernama Brigadir Rizki Kurniawan yang saat itu kebetulan hendak berobat.

“Karena meresahkan masyarakat, kemudian laki-laki tak dikenal tersebut dibawa ke Mapolres Kepulauan Meranti,” katanya.

Saat berada di Mapolres Meranti, petugas menanyakan alamat dan alasan pria tersebut melakukan keributan di Jalan Transit.

Ia kemudian menjawab beralamat di Jalan Perjuangan.

Dia juga menjawab dengan nada keras bahwa tidak senang sepeda motornya ditilang.

Kemudian petugas meminta tas yang dibawa pria itu untuk diperiksa.

Namun, pria tersebut menolak dan marah-marah.

“Yang bersangkutan marah dan memukul meja piket SPK yang mengakibatkan monitor komputer terhempas,” katanya.

Melihat aksi pria tersebut semakin emosi, petugas jaga memanggil anggota piket Reskrim untuk menenangkan pria itu.

Namun, pria itu tidak bisa mengontrol emosi dan mengajak piket Reskrim untuk berduel. Akan tetapi, tidak dilayani petugas.

“Dia mau menyerang anggota dengan menggunakan paralon. Melihat situasi tersebut, petugas mencoba menenangkannya.

Namun, yang bersangkutan malah mengejar petugas di ruang penjagaan sambil mengeluarkan badik dari pinggangnya dan mencoba melukai petugas,” jelasnya.

Karena membahayakan keselamatan petugas, lanjutnya, pria tersebut terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan hingga meninggal dunia di tempat. []

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Kriminolog Tanggapi Petugas Tembak Mati Pria Ngamuk di Kantor Polisi: Dilumpuhkan Bukan Dimatikan, https://jambi.tribunnews.com/2020/03/12/kriminolog-tanggapi-petugas-tembak-mati-pria-ngamuk-di-kantor-polisi-dilumpuhkan-bukan-dimatikan?page=all.

Editor: ekoprasetyo