Home / Berita Kompolnas / Kompolnas RI Apresiasi Kinerja Sat Resnarkoba Polresta Barelang

Kompolnas RI Apresiasi Kinerja Sat Resnarkoba Polresta Barelang

Gambar Gravatar

Editor: Bari

September 15, 2020

Batamline.com, Batam – Komisi Kepolisian Nasional Republik Indonesia (Kompolnas RI) berikan apresiasi atas kinerja Sat Resnarkoba Polresta Barelang. Karena, Sat Resnarkoba Polresta Barelang telah jerih-payah dalam menyelamatkan generasi Bangsa Indonesia.

Ia berharap kinerja Sat Resnarkoba Polresta Barelang tidak terhenti sampai di sini. Meski, Kompolnas RI sadar akan sulitnya situasi di lapangan saat menghadapi pengguna narkoba.

“Saya dorong tidak berhenti di sini. Selama pademi angka kasus narkoba meningkat. Baik pengedar, penyelundupan maupun, pemakai,” kata Sekretaris Kompolnas RI, Irjen Pol (Purn) Benny Jozua Mamoto saat ditemui di lobi Polresta Barelang, Senin (15/9/2020) sore.

Ia menyebut, masa Pademi Covid-19 ini angka kasus narkoba di Indonesia tinggi. Hal ini imbas dari sulitnya ekonomi.

Banyak orang tergiur untuk menjadi penyelundup, kurir ataupun pengedar. Mereka terbujuk iming-iming bayaran tinggi. “Daerah perbatasan perlu pengawasan khursus ,” ujarnya.

Keterpurukan ekonomi juga membuat orang frustasi dan tidak sedikit yang lari ke narkoba. “Jangan banjiri Indonesia dengan narkoba,” ujarnya.

Tim Komisioner Kompolnas RI tersebut datang ke Polresta Barelang untuk mengklarifikasi terkait tewasnya Hendri Alfreet Bakari (38) alias Otong, pelaku kepemilikan narkoba jenis sabu.

Tiga orang Komisioner Kompolnas RI yang turun ke Polresta Barelang yaitu, Irjen Pol (Purn) Benny Jozua Mamoto, Poengky Indarti dan, Albertus Wahyu Rudianto.

Benny menyebut kematian Hendri bukan karena penganiayaan. Melainkan organ tubuhnya rusak akibat menggunakan narkoba.

“Pelaku positif menggunakan narkoba. Jika menggunakan narkoba, saraf otak akan diserang terlebih dahulu. Jadi memang tidak mudah menangani orang mengkosumsi narkoba,” sebutnya.

Kompolnas bersama Polda Kepri dan Polresta Barelang akan membangun komunikasi dengan pihak keluarga pelaku dan menjelaskan penyebab kematian Hendri.

Ia tidak ingin ada multi tafsir yang menyebabkan ragu atau sangsi. “Tidak relevan antara kematian pelaku dan kekerasan minor yang ada,” tegasnya. (bang)