Tersangka Halangi Penanggulangan Wabah, dr. Lois Berurusan dengan Hukum

Tersangka Halangi Penanggulangan Wabah, dr. Lois Berurusan dengan Hukum

Jakarta – Seorang dokter bernama Lois Owien yang baru-baru ini viral di medsos karena kicauannya yang kontroversial, sejak kemarin Senin (11/7/2021) diperiksa polisi.
Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan dokter Lois Owien sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyebaran berita bohong hingga membuat keonaran terkait Covid-19. 
Dengan merujuk pada pasal-pasal yang dijeratkan kepada tersangka, dokter Lois terancam hukuman pidana penjara hingga 10 tahun. 
"(Dijerat pasal) Tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dan atau tindak pidana menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat," kata Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto saat dikonfirmasi wartawan, Senin (12/7).
Juga, dr. Lois diduga telah melanggar pidana berupa menghalang-halangi pelaksanaan atau penanggulangan wabah Covid-19 dengan menyiarkan berita tak pasti. Polisi menyebut patut diduga berita hoaks yang disebarkan itu dapat membuat keonaran di kalangan masyarakat. 
Untuk hal tersebut, Agus menjelaskan, Lois dijerat pasal berlapis mulai dari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga Undang-undang tentang Wabah Penyakit Menular. 
Lois terancam dijerat Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan/atau Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan/atau Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. 
Dari pasal-pasal tersebut, ancaman hukuman maksimal yang dapat dikenakan kepada Lois ialah 10 tahun penjara sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. 
Di mana pasalnya berbunyi: (1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun. Kemudian, dalam sangkaan pasal lain tentang upaya menghalang-halangi penanggulangan wabah, dia terancam pidana penjara paling lama satu tahun dan atau denda setingi-tingginya Rp1 juta. 
Penahanan Lois dilakukan setelah perbincangannya dalam acara talkshow Hotman Paris viral di media sosial. Saat itu, dia mengatakan bahwa dirinya tak percaya Covid-19. 
Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan mempersoalkan kalimat yang disampaikan dr. Lois sehingga ia masuk wilayah pelanggaran hukum.
“Postingannya, korban yang selama ini meninggal akibat Covid-19 adalah bukan karena Covid-19, melainkan diakibatkan oleh interaksi antar obat dan pemberian obat dalam enam macam," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Senin (12/7). 
Penyataan tersebut dinilai sebagai kebohongan yang berpotensi menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat. []