Terkait Kasus Polisi Perkosa Remaja dan Bakar Istri, Rekomendasi Kompolnas: Giatkan Tes Psikologi Berkala Bagi Anggota Polri

Terkait Kasus Polisi Perkosa Remaja dan Bakar Istri, Rekomendasi Kompolnas: Giatkan Tes Psikologi Berkala Bagi Anggota Polri

Kompolnas Sarankan Tes Psikologi Terkait Kasus Polisi Perkosa Remaja dan Bakar Istri

Jakarta - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti dua kasus yang mencoreng citra Polri. Saat ini media massa marak memberitakan dua kasus yang menderai nilai-nilai kemanusiaan, yaitu polisi memperkosa gadis di Polsek Jailolo Selatan, Halmahera Barat, Maluku Utara, serta kasus anggota Polres Aorong Kota, Papua Barat, yang membakar istri sendiri.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, menyatakan Polri perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajarannya.

"Sangat mengejutkan melihat ada oknum polisi tega melakukan kekejaman terhadap orang-orang yang seharusnya dilindungi, seperti kasus pemerkosaan oknum anggota Polsek Jailolo Selatan terhadap anak perempuan berusia 16 tahun, oknum anggota Polres Sorong Kota yang tega membakar istrinya sendiri," kata Poengky saat dihubungi pada Kamis (24/6/2021).

Poengky menyatakan keprihatinan mendalam atas terjadinya dua kasus tersebut. Dia menilai tindakan kedua oknum polisi itu sangat tidak sesuai kode etik Kepolisian.

Menurutnya, tugas utama seorang polisi melayani, mengayomi, melindungi masyarakat dan menegakkan hukum untuk mewujudkan harkamtibmas. Tetapi kedua oknum tersebut malah melakukan tindakan yang tercela.

"Perlu adanya evaluasi menyeluruh untuk perbaikannya," tegasnya.

Lebih lanjut, Poengky mengatakan, pimpinan Polri harus memberikan contoh, bimbingan, dan pengawasan ketat kepada anggotanya. Serta menerapkan sanksi tegas, hingga hukuman pidana harus benar-benar diterapkan kepada pelakunya yang terbukti bersalah.

"Saya melihat perlunya pimpinan memberikan contoh teladan, bimbingan, dan pengawasan terhadap anggotanya agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Sanksi tegas berupa pidana, etik, dan disiplin perlu diberikan kepada anggota yang melakukan pelanggaran hukum," lanjut Poengky.

Selain itu, Poengky juga meminta seluruh anggota Polri melakukan pemeriksaan psikologi secara berkala. menurutnya, kasus-kasus yang terjadi belakangan ini sangat berkaitan dengan kesehatan rohani para anggota Polri

Langkah yang tidak dapat diabaikan para Pimpinan Polri, jelas Poengky, adalah pemeriksaan psikologi secara berkala kepada anggota. Selain itu, tes narkoba dan tes miras setidaknya 6 (enam) bulan sekali kepada seluruh anggotanya dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologi sekaligus merawat kesehatan jiwa anggota. Langkah tersebut bertujuan sebagai upaya preventif terhadap kemungkinan terjadinya kejahatan oleh anggota, sekaligus memonitor tindakan anggota, terutama di kantor polisi.

"Pengawasan juga dapat dilakukan dengan memasang CCTV dan body camera bagi anggota," imbuhnya.

"Siraman rohani kepada anggota secara teratur, reward atas kinerja yang baik, serta peningkatan kesejahteraan diharapkan mampu menjaga anggota agar tidak melakukan penyimpangan," tambah Poengky.

Di pihak lain, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdy Sambo, mengkonfirmasi pemberhentian secara tidak hormat (PTDH) terhadap Briptu Nikwal Idwar yang menjadi tersangka kasus pemerkosaan gadis di Mapolsek Jailolo Selatan, Maluku Utara.

"Pemberhentian tidak dengan hormat dan hukuman seberat-beratnya Briptu Nikmal," kata Ferdy kepada wartawan Kamis (24/6/2021).

Aksi bejat salah satu oknum polisi tersebut sangat memalukan, serta mencoreng nama baik institusi Polri. Oleh sebab itu, Polri memohon kepada masyarakat Indonesia untuk membuka pintu maaf terhadap perbuatan anggotanya itu.

Selain sanksi etik, Polri berharap Briptu Nikmal juga dipidana. Prosesnya akan ditangani Polda Maluku Utara.

Sementara berkenaan dengan kasus polisi bakar istri sendiri karena latar belakang ekonomi, Kabid Humas Polda Papua Barat Kombes Adam Erwindi menerangkan, oknum polisi berinisial IP itu sudah ditangkap. Pihak kepolisian juga sudah menahan, serta  langsung memproses secara pidana terhadap yang bersangkutan.

"Sudah ditangkap dan ditahan, dengan proses tindak pidana," jelas Adam, Kamis (24/6).

IP juga sedang diproses secara etik. Adam mengatakan IP terancam dipecat.