Senior Polisi Pukul Junior di Mapolda Riau, Kompolnas: Berpotensi Turunkan Citra Polri

Senior Polisi Pukul Junior di Mapolda Riau, Kompolnas: Berpotensi Turunkan Citra Polri

Jakarta - Aksi main pukul oleh polisi senior kepada junior yang terjadi di pos jaga gerbang Polda Riau beberapa waktu lalu, menuai kritik dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Ketua Harian Kompolnas, Benny Jozua Mamoto menyatakan keprihatinan dan  menyayangkan terjadinya kasus pemukulan tersebut.

Aksi pemukulan itu terekam kamera CCTV setempat dan viral di media sosial. Dalam video tersebut terlihat Kompol RW turun dari mobil dinas yang ditumpanginya di depan Pos Jaga Polda Riau. Saat itu, terdapat Bripda FZ yang tengah berjaga.

Video yang viral itu kemudian memperlihatkan Kompol RW meninju Bripda FZ dengan tangan kanannya hingga korban sempoyongan dan terjatuh.

Belakangan diketahui, kronologi kasus pemukulan terjadi pada Rabu, 26 Mei 2021 sekira pukul 20.22 WIB. Namun, videonya beredar pada Jumat, 18 Juni 2021.

Saat itu, Kompol RW datang ke Mapolda Riau untuk ikut apel penyekatan dan Operasi Yustisi Covid 19. Dalam apel tersebut, Polda Riau mengundang Pemerintah Provinsi Riau dalam hal ini Satpol PP Provinsi Riau yang juga terlibat dalam Operasi Yustisi.

Dari dalam mobil yang ditumpanginya, Kompol RW sempat menyaksikan Bripda FZ bersikap tidak sopan kepada anggota Satpol PP yang hendak masuk Mapolda Riau. Bahkan Bripda FZ memukul tiang portal gerbang ketika kendaraan Satpol PP bergerak masuk.

Sejurus kemudian, Kompol RW turun dari mobilnya dan menegur Bripda FZ atas sikapnya tersebut. Namun Bripda FZ juga bersikap tidak sopan kepada seniornya tersebut, sehingga Kompol RW tersulut amarahnya.

Berkenaan dengan kasus tersebut, Benny Mamoto menyatakan kekhawatirannya bahwa kasus itu dapat menularkan perilaku buruk kepada anggota Polri lainnya. Benny mengkhawatirkan sikap arogan ataupun aksi kekerasan tersebut, dapat dilakukan oleh anggota kepolisian lainnya ketika berhadapan dengan masyarakat luas.

"Kami menyayangkan tindakan kekerasan tersebut. Karena ada cara lain yang lebih mendidik. Tindakan kekerasan oleh atasan, akan diikuti ketika anggota berhadapan dengan masyarakat. Kalau dibiarkan dapat menurunkan citra Polri" kata Benny.

Dia mengatakan, pada zaman dulu bentuk-bentuk pemukulan serupa dapat dijumpai di lembaga pendidikan kepolisian. Senior bertindak keras terhadap juniornya biasanya dalam rangka pembinaan.

Namun, seiring diberlakukannya pembenahan kultur dan kurikulum oleh lembaga pendidikan Polri, budaya tersebut saat ini telah dilarang.

Benny mengingatkan agar aparatur kepolisian selalu mengembangkan sikap ramah dan humanis dalam melayani masyarakat. "Dalam hal melayani masyarakat, polisi harus bersikap sopan dan ramah serta membantu memudahkan apa yang diperlukan masyarakat ketika datang ke kantor polisi," ucap Benny.

Di pihak lain, Polda Riau menganggap pengambilan dan peredaran video tersebut terjadi secara ilegal. Tentang bagaimana perekaman, pengambilan, dan penyebarluasan video tersebut tengah ditelisik pihak kepolisian.

"Pengambilan rekaman video CCTV milik Polda Riau itu melalui akses illegal. (Tindakan-red) itu merupakan perbuatan melawan hukum. " kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, Selasa (22/6).

Menurut Sunanto, tindakan tersebut melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

"Ini melanggar UU ITE. Tidak bisa mengambil rekaman CCTV milik Polda Riau apalagi menyebarkannya dilakukan secara bebas.," jelasnya.[hs/kp]