Saran Kompolnas agar Penahanan 40 Petani Sawit Mukomuko Ditangguhkan

Saran Kompolnas agar Penahanan 40 Petani Sawit Mukomuko Ditangguhkan

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengharapkan Polda Bengkulu menangguhkan penahanan terhadap 40 petani sawit Mukomuko yang diduga terkait kasus pencurian lahan milik PT Daria Dharma Pratama (DDP).

"Kami berharap penyidik mempertimbangkan untuk memberikan penangguhan penahanan. Kami melihat mereka yang ditahan adalah tulang punggung keluarga, sehingga akan menyulitkan keluarga jika tulang punggung keluarga ditahan," kata Juru Bicara Kompolnas Poengky Indarti kepada wartawan, Rabu (18/5).

Ia mengatakan, Kompolnas akan mengklarifikasi Kapolda Bengkulu Irjen Agus Wicaksono terkait kasus yang telah menjadi perhatian publik tersebut.

Dalam pandangannya, penahanan terhadap 40 petani itu hanya akan membuat kehidupan keluarga mereka terjepit.

"Kami akan melakukan klarifikasi kepada Kapolda Bengkulu terkait masalah ini, mengingat jumlah orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka ada 40 orang," jelasnya.

Selain itu, Kompolnas juga merekomendasikan supaya para petani sawit tersebut dapat menempuh jalur praperadilan jika mereka memprotes proses penegakan hukum yang dilakukan kepolisian.

Dengan demikian, menurutnya, pengadilan dapat melakukan pengujian atas keabsahan penangkapan, penetapan tersangka, hingga penahanan mereka.

Diketahui sebelumnya, sejumlah elemen masyarakat sipil memprotes atas terjadinya penangkapan terhadap 40 petani sawit tersebut dengan diduga melanggar hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Sudarno membenarkan adanya 40 petani yang ditahan Polres Mukomuko karena diduga mencuri di lahan perusahaan swasta.

"Benar, terjadi pencurian TBS di area perusahaan PT DDP Mukomuko. Proses hukum sedang berjalan.”

Sudarno meminta pihak petani sawit itu mengikuti proses hukum serta melihat perkembangan selanjutnya.

"Ada prosesnya, nanti kita lihat," kata Sudarno.

Menjawab permintaan kuasa hukum 40 petani sawit itu agar kliennya segera dibebaskan, ia mengatakan masih mencari jalan terbaik.

“Kita juga coba mencari jalan terbaik bagi warga yang saat ini sedang ditahan," kata Sudarno saat dihubungi, Selasa (17/5/2022). []