Lagi, Polda Metro Jaya Bongkar Kejahatan Penimbunan Obat Covid-19

Lagi, Polda Metro Jaya Bongkar Kejahatan Penimbunan Obat Covid-19

Jakarta - Kasus penimbunan obat-obatan Covid-19 kembali terjadi. Rabu, 4/8/2021 lalu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus, membeberkan polisi telah membekuk 24 orang yang diduga terlibat.

Dijelaskan Yusri, di dalam menjalankan aksinya tersebut, masing-masing para pelaku membagi peran untuk memuluskan kejahatan mereka.

"Modusnya itu mereka membeli obat Covid-19 dari apotek dan farmasi dengan harga standar dan memalsukan surat resep dokter. Mereka ada bekerja sama dengan orang apotek," ujar Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (4/8/2021).

Seperti telah diberitakan, sebelumnya penimbunan obat covid 19 juga telah berhasil dibongkar Polisi. Penyidik Polda Metro Jaya menggerebek gudang penimbunan obat Covid-19 di Komplek Pergudangan, Kalideres, Jakarta Barat, pada Senin (12/7/2021).

Mirisnya, untuk kasus teranyar, sebagian dari para pelaku yang berjumlah 24 orang itu, terdiri dari perawat hingga apoteker. Profesi yang seharusnya menjadi ujung tombak upaya penanganan covid 19.

Yusri menjelaskan, komplotan tersebut membeli obat Covid-19 dengan harga standar, kemudian menimbun dan menjualnya kembali dengan harga tinggi. Salah satunya, obat jenis Actemra yang dibeli dengan harga Rp 1,1 juta per kotak, oleh komplotan ini dijual hingga Rp 40 juta per kotak.

Selain penimbunan obat, para tersangka juga mencuri obat pasien Covid-19 yang sudah meninggal.

"Jadi ada pasien yang meninggal, obatnya dikumpulkan, nanti kalau udah terkumpul dia mainkan harganya," ujar Yusri.

Berdasarkan informasi yang diperoleh,  inisial 24 tersangka kasus penimbunan dan pencurian obat Covid-19 itu ialah BC, MS, AH, RS, LO, RH, TF, NN, SJ, MS, MH, RB, AH, SO, YN, HH, AA, UF, LP, DW, MI, MR, DS dan MD.

Yusri menambahkan, pihaknya tidak mempublikasikan informasi rinci tempat praktik perawat tersebut. Sebab, ia khawatir tindakan satu perawat dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan, terutama di masa pandemi Covid-19

Para tersangka kini telah dijerat dengan Pasal 196 dan atau Pasal 198 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 62 Jo Pasal 10 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mereka terancam penjara hingga 10 tahun.[hs/kp]