Konsep Agama dalam Bingkai NKRI, Sudut Pandang Anggota Kompolnas Mohammad Dawam

Konsep Agama dalam Bingkai NKRI, Sudut Pandang Anggota Kompolnas Mohammad Dawam

JAKARTA - Perbedaan yang berlatarbelakang agama, sering menjadi sorotan serta dianggap hal yang sangat sensitif untuk disinggung. Demikian ini berkaitan dengan masalah SARA. Hingga sekarang, isu konflik berlatar belakang agama masih terus menghantui keamanan dan perdamaian di negeri yang sangat beragam ini.

Menyikapi permasalahan tersebut, Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), H. Mohammad Dawam, mengemukakan konsep agama dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Gus Dawam, sapaan akrab H. Mohammad Dawam, mengatakan setiap ajaran agama tentunya tidak mengajarkan untuk bermusuhan dengan agama lain, melainkan untuk saling menghargai, khususnya antar sesama pemeluk agama. Baik dalam hal menjalankan ibadah atau dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai warga negara Indonesia yang beragama, kita tidak perlu lagi mempermasalahkan perbedaan agama, keyakinan, ras, suku, etnis, dan gender,” ujar Dawam, Rabu (15/12/2021).

Menurutnya, hubungan agama, kewarganegaraan maupun kenegaraan di Indonesia, sudah final sejak kesepakatan Indonesia terjadi. Sehingga tidak perlu lagi membedakan faktor agama, ras, etnis, budaya, dan gender. Dan tidak perlu lagi juga menyamakan perbedaan yang memang secara kodrat kehidupan memang berbeda.

“Terpenting kita sesama anak negeri untuk memantik siapa yang berbuat baik untuk bangsa, negara, dan masyarakat. Hal ini penting sebab spirit utama agama justru ada pada nilai kebaikan kita berbuat untuk manusia, negara, dan bangsanya,” ucapnya.

Dawam berharap, sebagai sesama warga negara yang beragama, hendaknya saling menghormati sesama kelompok keagamaan yang ada di Indonesia sebab telah dijamin dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita sebagai warga negara Indonesia, patut bersyukur, Tuhan telah memberi banyak karunia alam dan keberagaman yang tidak dimiliki negara dan bangsa lainnya. Keberagaman yang berbeda-beda justru menciptakan harmoni sosial dan keindahan yang justru saling menguatkan dalam tenun kebangsaan dan keagamaan kita,” pungkasnya. [fer/zf]