Kompolnas Soroti Kasus Dugaan Penganiayaan dan Pemerasan Tahanan Sesama Tahanan di Polda Metro

Kompolnas Soroti Kasus Dugaan Penganiayaan dan Pemerasan Tahanan Sesama Tahanan di Polda Metro

JAKARTA – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti kejadian yang dialami tahanan seorang tahanan Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, bernama Panji (28) yang diduga mengalami penganiayaan oleh sesama tahanan di Mapolda Metro Jaya.

Juru bicara Kompolnas Poengky Indarti menyoroti pihak kepolisian adanya insiden tersebut. Ia berpesan, aparat seharusnya dapat memastikan keamanan seseorang yang sedang ditahan dari segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.

"Ketika seseorang ditahan polisi di ruang tahanan, maka polisi juga harus bisa menjamin keamanan dan keselamatan orang yang ditahannya," katanya.

Bahkan, menurut Poengky, sebuah pelanggaran jika seseorang yang sedang dalam tahanan bisa menggunakan telepon seluler.

"Saya menyesalkan jika benar Dittahti PMJ masih bisa kebobolan ada tahanan yang membawa hp. Saya berharap pemeriksaan terhadap tahanan ditingkatkan, termasuk memeriksa barang-barang yang dibawakan dari luar oleh keluarga, karena jika tidak ketat, barang-barang yang seharusnya tidak boleh ada di ruang tahanan, bisa masuk," ujar Poengky kepada wartawan, Jumat (20/8) malam.

Oleh karena itu, ia berharap pihak terkait harus meningkatkan penjagaan dan patroli di ruang tahanan.

"Kelengkapan alat monitor seperti CCTV harus dipasang di sudut-sudut dan tempat-tempat yang secara visual sulit dilihat penjaga. Dengan demikian kekerasan bisa dicegah. Jika sudah terjadi tindak pidana, maka orang-orang yang terlibat dan penjaga beserta atasannya harus diperiksa," pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, Linda (45) yang merupakan Ibu dari tahanan bernama Panji (28) menceritakan kejadian yang dialami anaknya di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Jumat (20/8). Menurut Linda, selain menerima pukulan dari sesama tahanan di ruangan yang sama, anaknya juga diminta sejumlah uang.

"Anak saya dipukuli para tahanan lainnya mas, tidak hanya dipukuli saya juga dihubungi lewat WA dan telepon bahwa saya harus membayar Rp 10 juta untuk bayar kamar tahanan, atau anak saya dipukuli terus dan tidak diberi makan," jelas Linda.

Linda pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa kecewanya atas apa yang dialami oleh putranya tersebut. "Anak saya memang bersalah mas, tapi ibu mana yang mau anaknya dianiaya, bahkan tidak hanya dianiaya mas, sampai siang ini anak saya belum mendapatkan makanan, karena saya belum punya uang untuk membayar 10 juta untuk uang kamar," kata Linda.

Sementara itu, Kasubdit Pemeliharaan dan Perawatan Tahanan Dittahti Polda Metro Jaya Kompol Andi Rusdi menyampaikan, pihaknya segera merespons cepat kejadian itu.

"Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah pindahkan tahanan tersebut dari sel A2 ke sel 11," ujar Andi kepada wartawan, Jumat (20/8).

"Terkait dugaan kekerasan, itu hanya sebatas teror, ancaman saja," tambahnya.

Pihaknya menghadirkan Panji untuk menyampaikan klarifikasi di hadapan perwakilan wartawan. "Diberi makan secara rutin, sesuai ketentuan," ucap Panji.

Terkait penggunaan telepon seluler di dalam kamar tahanan, Andi mengaku, karena pengawasan yang kurang optimal. Dia menjelaskan, hal demikian terjadi karena persoalan over capacity dalam ruang tahanan.

"Ini persoalan over capacity juga. Rutan itu seharusnya hanya 300 tahanan idealnya, tapi saat ini mencapai 700 tahanan. Anggota kami kesulitan mengawasi aktivitas seluruh tahanan satu per satu," papar Andi. []