Kompolnas Sesalkan Kasus Dugaan Penganiayaan di Rutan Polri

Kompolnas Sesalkan Kasus Dugaan Penganiayaan di Rutan Polri

JAKARTA – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas)  menyesalkan adanya kasus dugaan penganiayaan di ruang tahanan Polri.

 

Juru bicara Kompolnas Poengky Indarti menyampaikan, di mana seharusnya ruang tahanan itu aman.

 

“Ketika polisi memutuskan untuk menahan seseorang, maka harus bisa menjamin keselamatan,” ujar Poengky, Minggu (19/9/2021).

 

Ia juga menyayangkan, orang yang diduga melakukan penganiayaan adalah seorang perwira tinggi Polri yang juga menjadi tahanan di situ.

 

“Nah, seharusnya yang bersangkutan, sebagai seorang perwira tinggi polri, bisa menunjukkan sikapnya untuk melayani, mengayomi, melindungi masyarakat, dan menegakkan hukum,” jelas Poengky.

 

Menurut Poengky, kalo tampak demikian, justru main hakim sendiri dan hukum rimba yang dipertontonkan kepada masyarakat, ini benar-benar merusak citra Polri.

 

Atas peristiwa itu, Poengky melanjutkan, pihak kepolisian wajib mengobati luka-luka yang timbul akibat penganiayaan. Mengusut tuntas melalui lidik sidik siapa pelaku penganiayaan tersebut untuk dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, ucap Poengky.

 

Selain itu, kata dia, polisi punya tanggung jawab atas keselamatan tahanan yang berada di dalam rutan.

 

"Meski penganiayaan itu dilakukan oleh sesama tahanan tetapi pihak kepolisian tetap bertanggung jawab karena dengan menahan seseorang berarti kepolisian harus bertanggung jawab terhadap keselamatan orang yang ditahan," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Poengky meminta pihak kepolisian untuk mengevaluasi serta meningkatkan pengawasan di dalam rutan agar tindak kekerasan tidak terulang.

 

"Serta memastikan sistem pengawasan yang baik agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari," pungkasnya.

 

Sebelumnya, Muhammad Kece melaporkan penganiayaan yang dialaminya oleh sesama tahanan di Rutan Bareskrim Polri.

 

Poengky menambahkan jika memang benar Sdr NB adalah terlapor atas penganiayaan Kece, polisi diharapkan segera menyelidiki peristiwa itu.

 

Penyelidikan bisa dimulai dari pemeriksaan saksi dan pengumpulan bukti-bukti.

 

"Jika benar terlapornya adalah Sdr NB, maka penyidik diharapkan segera melakukan lidik sidik untuk mendapatkan keterangan saksi-saksi dan bukti-bukti dengan dukungan scientific crime investigation, agar hasilnya valid dan akuntabel," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, Poengky Indarti meminta petugas penjaga ruang tahanan diperiksa, serta memastikan sistem pengawasan yang baik agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

 

Untuk diketahui, Muhammad Kosman alias Mohammad Kece membuat laporan polisi (LP) bernomor LP:0510/VIII/2021/Bareskrim pada 26 Agustus 2021 atas tindakan penganiayaan yang ia terima dalam ruang tahanan atau isolasi.

 

Sampai saat ini, pihak Bareskrim Polri masih melakukan penyelidikan awal dugaan penganiayaan itu. Kabareskrim Komjen Agus Andrianto telah mengungkapkan pelaku penganiayaan Muhammad Kece di rutan adalah Irjen Napoleon Bonaparte. Pihaknya mengatakan akan mengusut tuntas kasus ini. []