Kompolnas Sayangkan Ada Kasus yang Terkatung hingga 8 Tahun

Kompolnas Sayangkan Ada Kasus yang Terkatung hingga 8 Tahun

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) soroti lembeknya penanganan polisi terkait kasus penganiayaan Abdul Fadil (27), warga Rantauprapat, Sumatera Utara.

Juru bicara Kompolnas Poengky Indarti mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan penanganan kasus tersebut terkesan kinerja kepolisian menggantung.

"Kami sangat menyayangkan adanya kasus yang terkatung-katung hingga 8 tahun ini," kata Poengky Indarti saat dihubungi, Senin (22/11/2021).

Poengky mengapresiasi kepada pihak yang memberikan informasi soal penanganan kasus tersebut.

Poengky berharap Polres Labuhanbatu segera melaksanakan putusan praperadilan, agar kasus tersebut diselidiki kembali.

"Polres Labuhanbatu harus tunduk pada putusan praperadilan dan membuka kembali SP3," ujar Poengky.

Poengky juga menghimbau, agar kasus tersebut mendapatkan pengawasan guna mencegah adanya pelanggaran dalam penyidikan.

"Pengawas internal juga diharapkan mengawasi dan memproses secara internal jika diduga ada pelanggaran yang dilakukan penyidik," tegas Poengky.

Diinformasikan, Abdul Fadil mengeluhkan laporan penganiayaan yang dialami dirinya tidak kunjung disidangkan. Laporannya disampaikan kepada pihak kepolisian Polres Labuhanbatu sejak tanggal 1 Oktober 2013 silam, dengan bukti registrasi Laporan Polisi Nomor: LP/1323/X/2013/SU/RES-LBH.

"Aneh juga kasus ini, sudah delapan tahun kok belum juga disidangkan," ujar Abdul, Sabtu (20/11/2021).

Abdul mengungkapkan kekecewaannya kepada penyidik yang menangani 'kasus 170' yang dilaporkannya.

Ia menilai penangan kasus tidak dijalankan secara profesional. Abdul juga menyebut penyidik yang menangani laporannya berinisial HAT.

"Saya kecewa. Semua pelaku juga tidak ada yang ditahan, ada sembilan orang pelakunya. Saya katakan dalam hal ini penyidik tidak menjalankan fungsinya secara profesional," ucapnya.

Ditambahkan, kasus penganiayaan Abdul pernah di-SP3-kan oleh pihak penyidik Polres Labuhanbatu pada 18 Nopember 2013, sementara surat SP3 yang diterimanya sebagai korban sampai hampir tiga tahun kemudian, yakni pada tanggal 20 Januari 2016.

Menerima surat tersebut, Abdul tidak tinggal diam. Ia melakukan perlawanan dengan mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Rantauprapat pada tanghgal 18 Februari 2016.

Hakim dalam putusannya mengabulkan gugatan Abdul secara verstek pada Jumat 18 Mei 2016.

"Nekad kali penyidik menghentikan perkara tersebut, saya prapid-kan Kapolri. Saya menang, maka atas perintah hakim kasusnya dibuka kembali," jelasnya.

Walaupun demikian, sejak putusan hakim dibukanya kembali kasus tersebut, sampai saat ini juga belum jelas penanganannya.

"Kita melihat kinerja penyidik di Polres Labuhanbatu ini sangat memprihatinkan. Sudah berapa Kapolres yang menjabat tidak juga selesai," keluhnya.

Penganiayaan Abdul diduga dilakukan Satpam Pasar Gelugur salah satunya berinisial RD, penjaga lif barang. Peristiwa itu telah dilaporkan ke Polres Labuhanbatu dengan bukti surat tanda penerimaan laporan Nomor: STPLP/1142/X/2013/SU/RES-LBH tanggal 1 Oktober 2013.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kapolres Labuhanbatu AKBP Anhar Arlia Rangkuti mengkonfirmasi terkait lambannya penanganan kasus tersebut. Anhar mengatakan, pihaknya akan mengatensi kasus itu.

"Terimakasih akan kami atensi untuk segera ditindaklanjuti Kasat Reskrim," ujar Anhar. [kp/zf]