Kompolnas Sarankan Penyidik Dibekali Kamera Badan, Terkait Kasus Tewasnya Tahanan di Banjarmasin

Kompolnas Sarankan Penyidik Dibekali Kamera Badan, Terkait Kasus Tewasnya Tahanan di Banjarmasin

Banjarmasin - Komisi kepolisian Nasonal (Kompolnas) menyoroti kasus tewasnya sorang tahanan narkotika Polresta Banjarmasin yang bernama Subhan. Subhan yang  terduga pengedar tersebut meninggal dunia setelah delapan hari ditahan di markas Polresta Banjarmasin.

Dalam hal ini,  disarankan agar pihak keluarga bisa segera mengajukan autopsi guna mengetahui penyebab kematian tahanan kasus narkoba di Polresta Banjarmasin itu.

 

“Pentingnya melakukan autopsi tersebut  guna mengetahui penyebab kematian tahanan di Polresta Banjarmasin agar tidak menjadi kontroversi,” kata anggota Kompolnas Poengky Indarti, Jumat (17/6/2022).

 

Pelaku Hak Asasi Manusia ini menyesalkan adanya tahanan Polresta Banjarmasin yang meninggal dunia saat yang bersangkutan ditahan. Poengky mengatakan, dengan adanya autopsi bisa diketahui penyebab kematian tahanan itu apakah karena penyakit atau sebab lainnya.

 

“Saya menyarankan agar pihak keluarga Subhan bisa mengajukan permintaan autopsi jenazah. Kami juga meminta agar Bidang Propam Polda Kalsel melakukan pemeriksaan secara mandiri, profesional, transparan dan akuntabel,” tegas Poengky.

 

Jangan sampai ada penyiksaan oleh penyidik saat melakukan penyidikan, dan jangan sampai ada penganiayaan yang dilakukan oleh sesama tahanan,” kata Poengky.

 

Selanjutnya, Poengky mengatakan jika nanti dalam pemeriksaan Bidang Program Polda Kalsel terbukti ada kesengajaan atau kelalaian yang mengakibatkan meninggalnya tahanan, maka Ditreskrimum Polda Kalsel berwenang untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan (lidik-sidik).

 

“Selain pertanggung jawaban etik, juga harus ada pertanggung jawaban pidana agar ada efek jera dan keadilan,” imbuh Poengky.

 

Poengky berharap pengawasan untuk pencegahan pencegahan kekerasan terhadap tahanan perlu menjadi perhatian pimpinan institusi kepolisian. Yakni dengan memasang CCTV (kamera pengawas) di ruang-ruang penyidikan serta memasang video camera dan recorder.

 

Pemasangan CCTV di ruang tahanan dan patroli rutin setiap jam juga perlu dilakukan agar tidak ada tahanan meninggal dunia akibat penganiayaan sesama tahanan,” lanjut  Poengky.

 

Menurut Poengky, dengan adanya piranti canggih tersebut  juga mencegah terjadinya penyiksaan saat penangkapan dan penahanan.

 

Selain itu, penyidik perlu dibekali body camera sebagai bagian dari profesionalitas, akuntabilitas, dan transparansi,” ujar Ponegky