Kompolnas Sarankan ada Nomor Antrean, Kotak Evaluasi, dan CCTV di SPKT

Kompolnas Sarankan ada Nomor Antrean, Kotak Evaluasi, dan CCTV di SPKT

JAKARTA - Seorang driver ojek online (ojol) bernama Charly (38), mengunggah curhatnya yang menjadi viral di medsos. Dalam unggahan itu, ia menceritakan bahwa laporannya tidak ditanggapi oleh oknum polisi anggota Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Polsek Cileungsi, Bogor.

Kabar tersebut sampai kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Kompolnas menilai anggota SPKT perlu belajar bagaimana bersikap ramah dan empati kepada pelapor/pengadu.

"Seluruh anggota yang bertugas di SPKT harus diajari bersikap ramah dan menunjukkan empati kepada masyarakat yang mengadu/melapor. Jangan tunggu sampai ada masyarakat yang tidak puas dan memviralkan ketidakpuasan tersebut," ujar jubir Kompolnas Poengky Indarti kepada wartawan, Rabu (12/1/2021).

Diketahui sebelumnya, dalam akun Instagram @marinadks, Charly driver ojek online, mengatakan bahwa ia tidak dicueki oleh oknum polisi di Polsek Cileungsi, Bogor saat melaporkan soal motornya yang hilang.

"Sudah (lapor), tapi enggak ditanggapi sama polisi Cileungsi. Abang saya malah dipukul dadanya karena katanya kalau enggak ada uang, enggak diurus," tulis akun tersebut.

Oknum polisi tersebut saat ini tengah dalam proses pemeriksaan Propam.

Poengky mengapresiasi langkah cepat Polri. Namun, dia meminta agar kasus ini dijadikan pelajaran.

"Respons cepat Kapolsek dan Kapolres tersebut perlu diapresiasi. Tetapi kasus ini harus menjadi pelajaran agar pimpinan dan seluruh anggota benar-benar melaksanakan amanat pasal 30 ayat (4) UUD 1945 dengan sebaik-baiknya," tuturnya.

Guna mencegah terjadinya kejadian serupa, Poengky menyarankan untuk menggunakan nomor antrean aduan. Langkah ini tidak membolehkannya petugas menerima tip usai pelayanan.

"Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, saya mengusulkan penggunaan nomor antrean agar dapat dilayani dengan baik dan adil. Ruang pelayanan perlu dilengkapi CCTV untuk memantau agar anggota melayani dengan baik dan tidak menerima tip atas pelayanan tersebut," kata Poengky.

Tidak hanya itu, dinilai perlu disediakannya kotak evaluasi untuk mengetahui kepuasan masyarakat. Poengky mengatakan, polisi perlu menjalankan tugas dengan baik.

"Kepuasan masyarakat juga perlu diukur dengan disediakannya kotak evaluasi atau alat ukur lainnya yang lebih modern," tuturnya.

Lebih lanjut, Poengky berpesan, anggota Polri harus tulus dan melayani masyarakat dengan baik.

"Melaksanakan tugas sebagai seorang anggota Polri harus tulus dan benar-benar melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Masyarakat yang datang melapor adalah orang-orang yang susah karena menjadi korban tindak pidana, sehingga harus diperlakukan dengan baik," sambungnya.

Sebelum kasus Charly, juga terjadi oknum polisi yang tidak menanggapi laporan korban. Seorang ibu yang melaporkan pencabulan terhadap anaknya justru diminta polisi untuk menangkap pelaku.

Ibu korban berinisial D (34) awalnya melapor ke Polres Metro Bekasi Kota. D meminta polisi untuk segera menangkap pelaku yang saat itu hendak kabur ke Surabaya, Jawa Timur.

Akhirnya, D dan keluarganya menangkap pelaku di depan Stasiun Bekasi.

Kasus ini juga menyorot perhatian masyarakat saat Polri tengah upaya untuk berbenah dalam melayani masyarakat secara profesional. Propam Polda Metro Jaya lalu turun tangan menyelidiki kasus ini. []