Kompolnas: Pelaku Perekaman Kasus Pemukulan di Riau Selesaikan secara Restorative Justice

Kompolnas: Pelaku Perekaman Kasus Pemukulan di Riau Selesaikan secara Restorative Justice

Jakarta – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengkritik langkah Polda Riau yang tengah mencari perekam video yang berisikan rekaman CCTV tentang pemukulan petugas jaga oleh perwira.
"Di tengah badai Covid-19 ini sebaiknya energi Polri digunakan untuk membantu penegakan protokol kesehatan dan edukasi publik," kata Ketua Harian Kompolnas, Benny Mamoto, kepada wartawan, Selasa (22/6/2021).
Benny menyarankan agar kasus tersebut dapat diselesaikan secara restorative justice. Menurutnya, jangan lantaran emosional, polisi bertindak berlebihan.
"Apabila akan dicari pelaku perekaman, sebaiknya diselesaikan secara restorative justice dan berikan edukasi kepada masyarakat. Jangan sampai melakukan tindakan yang berlebihan hanya karena ada kemarahan," ucapnya.
Benny menilai aksi polisi di lapangan ibarat ikan di dalam akuarium. Menurutnya, semua orang dapat melihat perilaku polisi.
"Ini tren yang terjadi di masyarakat. Kalau perilaku polisi tersebut baik, ramah, peduli dan terpuji maka akan viral dan nilainya positif, yang diterima oleh polisi tersebut adalah doa dan dukungan. Namun bila sebaliknya, perilakunya kasar, tidak terpuji, dan arogan. Maka akan viral di medsos, akan mengundang kritik, dan merusak citra Polri," paparnya.
Hal itu, kata Benny, merupakan bentuk pengawasan publik di era digital. Dia berharap polisi yang bertugas di lapangan atau dalam kehidupan sehari-hari harus menjadi teladan masyarakat.
"Lebih baik lakukanlah kebaikan-kebaikan dan jadilah contoh teladan yang baik," katanya.
Sebelumnya, video pemukulan petugas jaga di Polda Riau, Bripda FZ oleh perwira polisi berinisial Kompol RW, menjadi viral di media sosial. Kini status pelaku perekam video tersebut dicari polisi.
Menurut Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, pengambilan gambar atau video dari CCTV Polda Riau oleh perekam dinilai sebagai bentuk pelanggaran.
"Akses ilegal yang dilakukan dengan merekam video dari CCTV milik Polda Riau merupakan pelanggaran serta perbuatan melawan hukum. Ini sudah sejak awal kita lakukan penanganannya," kata Sunarto kepada wartawan, Selasa (22/6).
Sunarto menyampaikan, pihaknya kini tengah fokus untuk mengusut penyebaran video itu.
"Kita sekarang fokus pada penyebaran video. (Ini jelas) perbuatan melawan hukum, tidak bisa (penyebaran video) dilakukan secara bebas. Ini melanggar UU ITE," ucapnya.
Dari rekaman video viral itu tampak Bripda FZ berbicara dengan supir Kompol RW.Lalu, FZ menunjuk ke arah portal yang terbuka.
Di saat itu Kompol RW keluar dari mobil dinasnya dan menghampiri Bripda FZ diikuti ajudannya, Brigadir TAQ.
Tak lama perwira polisi itu mengayunkan kepalan tangan kanannya melayang ke wajah Bripda FZ. Sebuah pukulan mendadak membuat tubuh Bripda FZ terhuyung lalu jatuh.
Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat (18/6/2021) malam. 
Setelah peristiwa pemukulan itu, Kompol RW dan Bripda FZ sempat bertemu. Kompol RW menjelaskan kehadiran Satpol PP dan dirinya ke Mapolda Riau malam itu melaksanakan perintah pimpinan dalam rangka melaksanakan protokol kesehatan, penyekatan jalan, dan operasi yustisi.
RW disebut sempat menanyakan FZ, apakah tindakannya membuatnya sakit hati; dan dijawab 'tidak' oleh FZ. Selain itu, RW disebut meminta FZ membuktikan hal itu dengan melakukan push up. []