Kompolnas: JPU bisa Ajukan Kasasi Kasus Penembakan Laskar FPI di KM 50

Kompolnas: JPU bisa Ajukan Kasasi Kasus Penembakan Laskar FPI di KM 50

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyarankan kepada keluarga atau pengacara Laskar FPI korban penembakan jika tidak puas dengan putusan majelis hakim, dapat meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan kasasi.

Demikian disampaikan jubir Kompolnas Poengky Indarti, Selasa 22 Maret 2022.

“Apabila keluarga korban atau pengacaranya tidak puas dengan putusan majelis hakim, maka mereka dapat meminta JPU mengajukan kasasi. Dengan demikian semua proses dilakukan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku,” kata Poengky.

Poengky menyampaikan, Kompolnas menilai penerapan Pasal 49 KUHP oleh Majelis Hakim karena didukung dengan tindakan diskresi kepolisian sesuai undang-undang, yang mengacu pada prinsip-prinsip dasar Hak Asasi Manusia bagi aparat penegak hukum.

Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Jumat, 18 Maret 2022, pukul 09.00 WIB memvonis bebas kepada Briptu Fikri Ramadhan dan IPDA M Yusmin Ohorella yang dihadirkan secara virtual bersama tim penasihat hukumnya atas perkara pembunuhan di luar hukum (unlawful killing) terhadap enam anggota laskar FPI.

Kedua polisi tersebut tidak dapat dihukum, sehingga dilepaskan dari segala tuntutan hukum, dengan penilaian seluruh unsur dalam dakwaan primer jaksa terbukti, tetapi perbuatan itu merupakan upaya membela diri.

Hakim menimbang perbuatan Briptu Fikri Ramadhan, IPDA M Yusmin Ohorella, dan IPDA Elwira Pribadi, dalam rangka membela diri karena anggota FPI menyerang dan melakukan perlawanan.

Dalam pendapat Majelis hakim, ada serangan yang melawan hukum dari laskar FPI yang dilakukan dengan cara mencekik, mengeroyok, menjabak, serta merebut senjata api sehingga terdakwa menjalankan tugas dalam rangka mempertahankan senjata dan membela diri dengan tindakan menembak.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum menyatakan masih mempertimbangkan apakah akan mengajukan banding atau tidak.

“Kami menyatakan pikir-pikir yang mulia,” tutur Jaksa Fadjar setelah pembacaan putusan yang dibacakan Hakim Ketua Arif Nuryanta.

Jaksa Penuntut Umum sebelumnya menuntut terdakwa hukuman pidana 6 tahun penjara. Jaksa menuntut kedua polisi itu dengan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Yusmin Ohorella didakwa karena menembak empat anggota FPI setelah pengejaran yang berakhir baku tembak di di Jalan Tol Cikampek KM 50.

Kejadian ini berawal, Polda Metro Jaya memerintahkan Yusmin, Fikri, dan Ipda Elwira Pribadi untuk membuntuti mobil milik Rizieq Shihab.

Pengejaran itu berujung dengan peristiwa baku tembak di Jalan Simpang Susun Karawang Barat, Jawa Barat pada Senin dini hari, 7 Desember 2020. []