Kompolnas Dorong Propam Pemeriksa Komprehensif Kasus Polisi yang Diperas Ketua LSM Tamperak

Kompolnas Dorong Propam Pemeriksa Komprehensif Kasus Polisi yang Diperas Ketua LSM Tamperak

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyayangkan tindakan penyidik Polsek Menteng, Jakarta Pusat, berinisial HW mentranfer uang Rp50 juta kepada ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tamperak.

"Sangat disayangkan juga jika korban sempat ketakutan termakan ancaman, sehingga membayar uang sebesar Rp 50 juta," ujar juru bicara Kompolnas Poengky, Sabtu (27/11/2021).

"Sebagai penyidik dan penegak hukum, tidak seharusnya yang bersangkutan memberikan uang, karena justru makin menyuburkan praktik pemerasan itu sendiri," katanya.

Poengky mendorong Propam memeriksa dan harus menyelidiki secara menyeluruh motif pemberian uang ke LSM tersebut, apakah sekadar faktor kecemasan atau ada hal lain yang hendak ditutupi.

"Propam juga perlu melihat, apakah benar korban mendapat uang (suap) seperti disampaikan tersangka dengan testimoni keluarga. Intinya pemeriksaan Propam secara menyeluruh dalam kasus ini penting dilakukan untuk membuat terang kasus ini," kata Poengky.

Peristiwa pemerasan yang dilakukan oleh Ketua LSM Tameng Perjuangan Rakyat Antikorupsi (Tamperak) terhadap HW itu terjadi pada 19 November 2021. Saat itu, Ketua Tamperak Kepas Panagean Pangaribuan bersama rekannya, Robinson Manik, datang ke Mapolsek Menteng.

Keduanya menemui HW dan menakutinya dengan memperlihatkan video testimoni keluarga tersangka kasus narkoba yang mengaku telah memberi uang suap kepada HW.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Hengki Hariyadi menegaskan, keluarga tersangka dipaksa membuat testimoni itu.

"(Kepas) memaksa keluarga tersangka untuk membuat testimoni telah terjadi suap-menyuap," kata Hengki dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Pusat, Jumat (26/11/2021).

Kepas mengancam HW akan memviralkan video itu jika tak diberi uang dan juga akan melaporkan masalah itu kepada Presiden Jokowi dan pimpinan Polri. Sebelumnya, Kepas meminta uang Rp2,5 miliar ke HW, yang harus dibayarkan saat itu juga. Setelah, terjadi tawar-menawar harga lalu turun ke angka Rp250 juta hingga disepakati sejumlah Rp50 juta. Kemudian HW mentransfer uang Rp50 juta ke rekening LSM Tamperak.

Dari pernyataan Hengki, korban mau mengirimkan sejumlah uang, karena takut video itu akan viral dan sampainya surat kepada Presiden, pejabat negara, dan petinggi Polri.

Hengki juga menjelaskan persoalannya atas berita yang berkembang, HW sebenarnya tidak menerima suap sebagaimana yang dituduhkan Kepas dan juga mengirimkan empat orang tersangka kasus narkoba ke panti rehabilitasi itu sesuai prosedur karena tidak ditemukan alat bukti.

"Hasil pemeriksaan Propam tidak ada suap-menyuap. Kenapa korban bisa takut? Korban menyatakan di era post truth ini fakta bisa dikalahkan opini publik. Walaupun faktanya tidak seperti itu, tapi kalau diviralkan nanti sudah dihakimi di medsos," ucap Hengki.

"Lalu dari mana uang Rp 50 juta itu? Hasil pemeriksaan Propam ternyata yang bersangkutan meminjam modal usaha istrinya yang bekerja di bidang wedding organizer," sambung Hengki.

Setelah ditransfer Rp 50 juta, Kepas masih terus memeras HW untuk mentransfer sejumlah uang tambahan. Karena tak tahan dengan perlakuan Kepas, HW mengadukan masalah ini kepada atasannya.

Kemudian, Polres Metro Jakarta Pusat menangkap Kepas dan Robinson pada hari Senin (22/11/2021). Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 368 dan 369 KUHP dan atau Pasal 27 ayat 4 UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara. []