Kompolnas Dorong Kepolisian Usut Pernyataan Saifuddin Ibrahim

Kompolnas Dorong Kepolisian Usut Pernyataan Saifuddin Ibrahim

JAKARTA -- Kompolnas mendorong pihak kepolisian segera menindaklanjuti sorotan masyarakat atas video pernyataan Saifuddin Ibrahim. Di akun YouTube milik Saifuddin Ibrahim, ia meminta Menteri Agama untuk menghapus 300 ayat Alquran. Permintaan dan pernyataannya soal ayat-ayat tersebut sebagai biang intoleransi dan radikalisme di Tanah Air langsung viral di media sosial dan mendapatkan banyak kecaman dari para netizen.

"Saya sebagai anggota Kompolnas meminta Polri agar segera turun tangan untuk menyelidiki kasus ini. Pasalnya, pernyataaan yang dilontarkan Saifuddin telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat," kata Yusuf Warsyim, Kamis (17/3/2022).

Yusuf menyampaikan, langkah penyelidikan oleh Kepolisian bisa memberi ketentraman di masyarakat.

Dia mengharapkan, penyelidikan polisi terhadap video Saifuddin tersebut dapat diketahui, apakah terdapat dugaan pelanggaran atau tidak terhadap Pasal 28 ayat (2) UU ITE.

Yusuf melanjutkan, dalam pasal itu disebutkan setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA.

Dia juga mengharapkan, masyarakat untuk menyerahkan dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian.

"Kita dorong adanya penyelidikan polisi secara sungguh-sungguh dan profesional serta transparan berkeadilan," ujar Yusuf.

Diinformasikan juga, Saifuddin Ibrahim alias Abraham Ben Moses pernah ditangkap pada 2017 karena kasus ujaran kebencian.

Dari video terbaru di akun YouTube milik Saifuddin Ibrahim , dia kembali berpotensi berurusan dengan masalah hukum. Dia diduga menghina Islam karena menyebut ada 300 ayat Alquran yang perlu dihapus karena memicu tindakan intoleran.

Dalam videonya itu juga, Abraham menyarankan aggar Kemenag merevisi kurikulum madrasah dan pesantren yang dinilainya melahirkan orang radikal. Menurutnya, semua teroris muncul dari institusi pendidikan madrasah dan pesantren. []