Kompolnas: Densus 88 Juga Tangkap Anggota KKB Papua

Kompolnas: Densus 88 Juga Tangkap Anggota KKB Papua

Jakarta - Kompolnas membantah penilaian pengamat sosial-ekonomi dan keagamaan Anwar Abbas soal aksi Densus 88 yang dikatakannya tidak ikut andil memberantas teroris KKB di Papua. Kompolnas mengatakan, Densus 88 juga ikut melakukan penangkapan para anggota KKB di Papua.

"Densus sudah melakukan penangkapan beberapa kali di Papua. Beberapa target Densus ada di Papua. Saya lupa nama tersangkanya KKB yang menangkap Densus," ujar Ketua Harian Kompolnas, Benny Mamoto, Senin (8/11/2021) malam.

Benny mengatakan Densus 88 juga memantau jaringan teror se-Indonesia dan menangkap KKB Papua meski jumlahnya tidak sebanyak penangkapan teroris di daerah lain.

"Densus memantau jaringan teror se-Indonesia, tidak hanya di Papua. Memang jumlah yang ditangkap Densus di Papua tidak sebanyak di daerah lain. Di Papua kan ada Satgas Nemangkawi yang memang fokus mengejar KKB," bebernya.

"Di Papua sudah ada Satgas Nemangkawi, terdiri dari TNI dan Polri yang tugasnya pencegahan dan penindakan terhadap KKB. Densus melaksanakan penanganan terorisme melalui program pencegahan, penindakan, dan deradikalisasi. Densus memiliki Satgas Wil di setiap Polda," lanjutnya.

Benny juga mengatakan alasan Densus 88 mengamankan kotak amal seperti yang terjadi di Lampung. Menurutnya pimpinan JI, Para Wijayanto memang memanfaatkan kotak amal sebagai media untuk menggalang dana demi operasional kelompoknya.

"Salah satu cara penggalangan dana adalah melalui kotak amal yang disamarkan sehingga masyarakat tidak tahu siapa di balik kotak amal tersebut. Ini semua diatur di buku strategi mereka. Mereka bahkan punya bisnis legal sebagai sumber dana untuk mengelola organisasi, termasuk memberangkatkan ratusan anggotanya ke Suriah. Pendanaan sangat penting bagi organisasi teroris," ungkapnya.

Benny menyebut pendanaan bagi kelompok teroris bagai darah bagi tubuh manusia. Menurutnya salah satu strategi melumpuhkan teroris adalah dengan mematikan sumber dananya, yang dalam hal ini adalah menyita kotak amal.

"Pendanaan sangat penting bagi organisasi teroris. Pendanaan tersebut ibarat darah bagi tubuh manusia. Kalau mau melumpuhkan kekuatan organisasi teroris maka salah satu caranya adalah mematikan sumber dananya. Densus ketika menyita kotak amal tentunya sudah didukung bukti yang kuat dan harus dipertanggung jawabkan di depan pengadilan," ujarnya.

"Oleh sebab itu marilah kita belajar tentang perkembangan jaringan teroris yang semakin maju dan canggih, supaya kita tidak tertinggal informasi, baik cara teroris berkomunikasi dengan teknologi terkini, maupun cara teroris mencari dukungan dana," sambungnya.

Sebelumnya, Anwar Abbas menyinggung, aksi Densus 88 yang menyita ratusan kotak amal di Lampung, yang diduga untuk mendanai aksi terorisme. Abbas yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berharap Densus 88 juga ikut berperan pemberantasan teroris KKB di Papua.

"Masalah radikalisme dan terorisme memang menjadi ancaman bagi masa depan bangsa dan negeri ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan, kenapa Densus 88 ini hanya sibuk mencari kelompok-kelompok radikal saja? Sementara mereka (Densus 88) tidak terdengar beritanya terjun di Papua bagi mencari dan menangkap para pelaku yang memang sudah jelas-jelas bersenjata, bahkan sudah banyak membunuh para tentara dan warga masyarakat kita yang ada di sana. Untuk itu, kita sangat mengharapkan agar Densus 88 lebih fokus ke masalah Papua, dan jangan terlalu sibuk mengambil kotak-kotak amal yang ada," kata Anwar dalam keterangannya, Sabtu (6/11). []