Kompolnas Apresiasi Langkah Cepat Kapolda Sulawesi Tengah dan Kapolres Parigi Moutong Ungkap Kasus Penembakan

Kompolnas Apresiasi Langkah Cepat Kapolda Sulawesi Tengah dan Kapolres Parigi Moutong Ungkap Kasus Penembakan

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengapresiasi langkah cepat Kapolda Sulawesi Tengah dan Kapolres Parigi Moutong yang bergerak cepat mengungkap kasus penembakan yang menewaskan satu warga sipil dalam unjuk rasa penolakan tambang di Parigi Moutong pada awal Februari lalu.

“Kami mengapresiasi langkah cepat Kapolda Sulawesi Tengah dan Kapolres Parigi Moutong yang bergerak cepat mengungkap kasus penembakan tersebut, sehingga pertanyaan publik dapat dijawab,” ucap Ketua Harian Kompolnas Benny Jozua Mamoto, Kamis (3/3/2022).

Kompolnas tetap memantau perkembangan penanganan kasus penembakan tersebut.

'Penanganan kasus memang memerlukan waktu karena harus memeriksa seluruh anggota yang terlibat penanganan unjuk rasa berikut senjatanya," ujarnya.

Benny mengatakan, perlu dilakukan rekonstruksi atas peristiwa tersebut.

"Perlu dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui gambaran kondisi di lapangan sehingga yang bersangkutan (Bripka H) memutuskan melepaskan tembakan. Apakah tembakan tersebut tembakan peringatan, tapi salah arah (ke arah yang tidak aman) atau memang untuk melumpuhkan," ujar Benny, Kamis (3/3/2022).

Dari keterangan yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah, bahwa anggota Polri yang terlibat pengamanan unjuk rasa di wilayah tidak menggunakan senjata api, sebagai mana diatur dalam SOP pengamanan unjuk rasa. Namun dalam peristiwa tersebut, satu warga meninggal dunia akibat tembakan. Lalu kepolisian setempat melakukan uji balistik untuk mengetahui siapa pemilik senjata api tersebut.

Sementara ini, dari hasil uji forensik dan uji balistik yang dilaksanakan oleh Polda Sulawesi Tengah terhadap senjata api milik anggota polisi yang melakukan pengamanan unjuk rasa yang terjadi pada tanggal 12 Februari lalu, ditemukan identik dengan anak peluru proyektil pembanding yang ditembakkan dari senjata organik pistol HS-9 dengan nomor seri H239748 atas nama pemegang Bripka H.

Begitu juga hasil uji DNA dari sampel darah yang ditemukan di proyektil dengan darah korban hasilnya identik.

"Dengan temuan ini maka dapat dibuktikan bahwa Bripka H melanggar 'SOP' karena membawa senjata dengan peluru tajam dan melepaskan tembakan sehingga ada korban," tutur Benny.

Benny menambahkan, apabila penyelidikan dan penyidikan telah selesai, maka kasus tersebut akan terungkap dengan jelas, dan publik dapat mengetahui peristiwa yang sebenarnya. []