Kasus Polisi Tembak Polisi di Lombok Timur, NTB, Kompolnas Soroti Regulasi dan Izin Penggunaan Senpi

Kasus Polisi Tembak Polisi di Lombok Timur, NTB, Kompolnas Soroti Regulasi dan Izin Penggunaan Senpi

JAKARTA - Kasus polisi tembak polisi di Lombok Timur, NTB pada Senin (25/10/2021) mengejutkan lembaga pengawas polisi Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Juru bicara Kompolnas Poengky Indarti menyampaikan, Kompolnas terkejut setelah mengetahui perbuatan keji Bripta MN yang dengan sengaja membunuh Briptu Khairul Tamini. Poengky mengharapkan Bripka MN dapat segera diproses ke meja hijau.

"Kami mengharapkan pelaku segera diproses pidana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Poengky, Rabu (27/10/2021).

Namun demikian, peraih gelar Master Hukum Hak Asasi Manusia Internasional, Universitas Northwestern, Amerika Serikat, itu menyoroti adanya persoalan serius di balik peristiwa tersebut.

Menurut Poengky, Polri harus segera mengambil langkah evaluatif terkait regulasi dan izin penggunaan senjata api oleh anggota Polri.

"Perlu dievaluasi mengapa ada tindakan main hakim sendiri dan masih adanya penyalahgunaan senjata api oleh anggota," ujarnya.

Lebih lanjut, Poengky juga mempertanyakan aspek-aspek lain terkait izin penggunaan senjata api oleh anggota. Menurutnya, penggunaan senjata api tidak bisa sembarangan. Agar tidak disalahgunakan, anggota polisi yang mendapat izin menggunakannya, harus teruji kesehatan dan psikologinya.

"Apakah surat izinnya masih valid? Dan apakah sudah ada pemeriksaan psikologi, pemeriksaan tes narkoba dan minuman keras secara berkala?" ujar Poengky.

Poengky pun menekankan, Bripta MN diberikan sanksi tegas secara internal maupun pidana. Sebab, tindakan pelaku telah menghilangkan nyawa manusia dengan alasan tak logis.

Diketahui, penyidik sudah menggelar prarekonstruksi kasus penembakan Briptu Khairul oleh Bripka MN di kediaman korban, Blok X A 14 Griya BTN Pesona Madani, Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong.

Berdasarkan pengakuan Bripka MN kepada penyidik, penembakan yang menewaskan Briptu Khairul Tamimi dilakukannya lantaran cemburu terhadap korban yang sering chatting dengan istrinya.[hs/kp]