Fenomena Korban Jadi Tersangka, Kompolnas Pertanyakan Profesionalisme Penyidik Polri

Fenomena Korban Jadi Tersangka, Kompolnas Pertanyakan Profesionalisme Penyidik Polri

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) soroti kasus kakek penjaga kolam ikan di Demak, Jawa Tengah, yang dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian setempat setelah membacok maling dengan arit.

Juru bicara Kompolnas Poengky Indarti menanggapi kasus tersebut mengatakan, terdapat adanya kelalaian dari penyidik, sehingga penetapan status tersangka kepada kakek itu kurang tepat.

Poengky menambahkan, polisi seharusnya secara profesional dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan. Serta harus didukung dengan investasi kriminal yang scientific untuk mendapatkan hasil yang valid.

“Dalam melakukan lidik-sidik harus profesional dan didukung scientific crime investigation, agar hasilnya valid,” ujar Poengky Kamis, (14/10/2021).

Selain kasus kakek itu, Kompolnas juga mempertanyakan kasus seorang pedagang wanita di sumatera Utara yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Di mana kronologi dalam kasus tersebut, si pedagang wanita dipukuli oleh pria yang diduga sebagai preman.

Selanjutnya, si pedagang wanita melaporkan pemukulan itu kepada polisi. Namun, pria yang diduga preman itu juga turut melapor, dengan alasan dirinya yang dipukuli oleh si pedagang wanita itu.

Poengky mengatakan, tak semua kasus dapat digiring demi menciptakan keadilan. Karena tak semua pelapor merupakan korban. Polisi harus dapat menelaah semua kasus dengan benar agar keadilan yang sebenarnya dalam sebuah kasus dapat diungkap.

Lebih lanjut Poengky mengatakan, tidak semua kasus dapat digiring demi menciptakan keadilan. Karena tidak semua pihak pelapor merupakan korban. Poengky menghimbau, agar polisi juga dapat menelaah semua kasus dengan benar, agar terwujud bentuk keadilan yang sebenarnya dalam mengungkap sebuah kasus.

"Tidak bisa kemudian digiring atau dipaksakan agar ada ‘keadilan’ karena dianggap sudah memproses kasus saling lapor dengan menjadikan kedua belah pihak sebagai tersangka," ujar Poengky.

Dampak dari kasus kasus dugaan penganiayaan pedagang wanita dan preman di Sumut itu, Polri telah mencopot Kapolsek dan Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan.

Sementara, untuk kasus di Demak, polisi tetap menetapkan Kasmito sebagai tersangka meski sudah diketahui orang yang dibacoknya merupakan maling ikan di tambak yang dijaganya.

Di sisi lain, polisi juga menetapkan sang maling menjadi tersangka. Saat ini pria 30 tahun itu masih dirawat karena luka bacok. Polisi tetap memproses keduanya karena menilai kedua kasus ini berdiri sendiri. [zf/kp]