Editorial MI: Konsistensi Berantas Pungli

Editorial MI: Konsistensi Berantas Pungli

Praktik pungutan liar alias pungli masih marak di Tanah Air. Marak karena minus konsistensi meski regulasi sudah dibuat. Kalau Presiden Joko Widodo memberi atensi terhadap praktik pungli, penangkapan terhadap para pelaku cepat sekali. Tidak lebih dari 24 jam setelah diperintahkan Presiden, Kamis (12/6), kepolisian sudah menangkap 49 orang.Perintah itu keluar pada saat Presiden berdialog dengan para sopir di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Para sopir mengeluhkan premanisme dan pungli.
Bagaimana penindakan pihak Kepolisian terhadap aksi premanisme dan pungli selama ini. Melalui sambungan telefon, terhubung dengan Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto. 
Tadi disampaikan oleh Bang Kohar, bahwa konsistensi menjadi hal yang mahal. Ini salah satu yang menyebabkan pungli dan aksi premanisme masih marak di tanah air. Kalau analisis Anda, apa yang menyebabkan pungli masih marak di Indonesia?
Kita seharusnya sudah mengantisipasi dampak dari pandemik covid-19. Pengangguran marak terjadi di mana-mana, kemudian banyak bisnis yang gulung tikar, termasuk yang berada di level bawah. Sehingga, ini meningkatkan aksi kriminalitas di jalanan. Kita pantau ada penjambretan, pungli, dan lain sebagainya. Kemudian juga masalah kredit online yang macet, debt collector yang menagih dengan kekerasan, dan lain sebagainya. Termasuk narkoba. Kenapa narkoba? Karena kita tahu, banyak orang frustrasi, jobless, dll., akhirnya mengkonsumsi narkoba. Yang menganggur dapat tawaran bisnis jual narkoba.
Inilah yang menurut kami, perlu dilakukan langkah antisipasi, termasuk, dalam hal ini mempertimbangkan kesibukan Polri dalam rangka meng-back up penanganan masalah covid-19.
Ketika kami berkunjung ke daerah-daerah, kapolda-kapolda dan jajarannya itu fokus, bagaimana membantu bersama-sama mengatasi pandemi covid-19. Ini tentunya tidak boleh terlena. 
Oleh sebab itu, kami menyarankan masyarakat menyampaikan aduan secara online. Karena Polri sudah membuka layanan pengaduan masyarakat. Jadi, aduan bias secara online disampaikan. Apatah itu masalah premanisme, ada pungutan liar, dan lain sebagainya. Hingga sesegera mungkin ditindaklanjuti. 
Nah itu adalah analisis Anda, Pak Beni, dari sisi pelaku yang frustrasi atau jobless. Tetapi, yang kami tanyakan, soal konsistensi dari tim Satgas Saber Pungli yang sudah dibentuk tahun 2016 dan kini dipertanyakan konsistensinya bekerja secara simultan dalam pemberantasan itu sendiri. Seperti apa tanggapannya?
Sebagaimana saya sampaikan, karena sedang fokus pada skala prioritas tentang masalah covid-19 sehingga ada hal-hal lain yang menjadi kurang perhatian. Ini justru, apa yang terjadi di Tanjung Priuk, mengingatkan kembali kepada kepada seluruh jajaran Saber Pungli, bahwa justru di dalam pandemi covid-19 ini, kasus pungli meningkat .... 

Lihat: