Audiensi Kompolnas dengan Ibu kandung dan Tim Kuasa Hukum Novia Widyasari

Audiensi Kompolnas dengan Ibu kandung dan Tim Kuasa Hukum Novia Widyasari

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI menggelar audiensi dengan Ibu Fauzun (ibu kandung Novia Widyasari) yang didampingi oleh Tim Kuasa Hukum keluarga Novia yakni Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari pada hari Selasa, (18/01/2022) pukul 16.00-18.10 WIB. Kegiatan audiensi tersebut dilakukan secara virtual melalui media zoom meeting.

Hadir dalam audiensi virtual tersebut Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto, anggota Kompolnas Poengky Indarti,  anggota Kompolnas Yusuf Warsyim, anggota Kompolnas Mohammad Dawam, Kabag Duknis Sekretariat Kompolnas Napitupulu Yogi Yusuf, Kassubag Penerimaan dan Analisa SKM Yudi Rama Putra serta staf Bag Duknis Sekretariat Kompolnas lainnya; dan dari pihak pengadu Ibu Fauzun serta perwakilan dari Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari.

Ibu Fauzun mengatakan, Novia Widyasari sudah melaporkan perbuatan Bripda Randy Bagus Hari Sasongko ke Paminal si Propam Polres Pasuruan, hal ini dibuktikan dengan adanya bukti percakapan tangkapan layar pesan WhatsApp Novia Widiasari dengan salah satu yang diduga sebagai anggota Paminal si Propam Polres Pasuruan serta keterangan dari Ibu Fauzun yang membenarkan bahwa Novia pada tanggal 16 November 2021 pamit minta izin kepada ibundanya untuk pergi ke Prigen Pasuruan menemui Paminal.



Sementara ini, Ibu Fauzun sebagai keluarga korban belum menerima perkembangan hasil penyidikan yang dilakukan Ditreskrimum Polda Jawa Timur terkait kasus tersebut. Dan sampai saat ini belum ada pemberitahuan kepastian PTDH tersangka R kepada pihak keluarga korban sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kasus tersebut.

Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari sendiri terdiri dari 22 advokat dan konsultan hukum. Yakni dari Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, LBH Mojokerjo, Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) dan Kantor Advokat Ansorul and Partner.

Ketua BKBH Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Yenny Eta Widyanti mengatakan, pihak Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari menyampaikan enam hal penting kepada jajaran Kompolnas.

Pertama, pihaknya menyampaikan beberapa temuan berupa kesaksian dan bukti tangkapan layar pesan WhatsApp yang menunjukkan bahwa aborsi yang dilakukan Novia merupakan hasil desakan serta bujuk rayu dari pihak terduga pelaku Randy Bagus Hari Sasongko beserta keluarga. Di mana tindakan aborsi tersebut tanpa persetujuan Novia.

"Berdasar temuan-temuan tersebut, Tim Advokasi mendorong adanya perubahan persangkaaan pasal yang awalnya 348 KUHP yakni aborsi dengan persetujuan berubah menjadi 347 KUHP yakni aborsi tanpa persetujuan," ungkap Yenny dalam keterangan rilis yang diterima JatimTIMES.com, Rabu (19/1/2022).

Kedua, Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari juga menegaskan bahwa Novia selama ini tidak mengidap gangguan bipolar. Karena tidak terdapat bukti baik dari hasil pemeriksaan medis yang menyatakan bahwa Novia mengidap bipolar.

Untuk diketahui bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan drastis pada suasana hati. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa gangguan bipolar dikenal sebagai salah satu penyebab bunuh diri terbanyak di dunia.

"Tim advokasi sama sekali tidak menemukan informasi yang dapat dipercaya bahwa almarhumah Novia mengidap bipolar. Benar bahwa Novia pernah melakukan pemeriksaan dan konseling psikologi, namun tidak ada hasil pemeriksaan yang menunjukkan bahwa Novia menderita kelainan bipolar," jelas Yenny.

Ketiga, pihaknya menyampaikan bahwa Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari juga memiliki temuan bahwa Novia pernah melaporkan kasusnya ke Propam Polres Pasuruan.

Pelaporan yang dilakukan Novia ke Propam Polres Pasuruan tersebut dilanjutkan dengan pertemuan antara Novia dengan sejumlah orang yang diyakini merupakan anggota Paminal Propam Polres Pasuruan di sebuah restoran yang terletak di kawasan Prigen, Pasuruan.

"Pertemuan tersebut adalah inisiatif dari yang diyakini sebagai anggota Paminal Propam Polres Pasuruan," ujar Yenny.

Keempat, Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari terus mendorong adanya pendalaman dalam penyidikan guna menelusuri adanya kemungkinan untuk menjerat pihak-pihak lain yang seharusnya turut bertanggungjawab atas kekerasan seksual yang dialami Novia.

"Termasuk kemungkinan pertanggungjawaban orang tua Randy, atas tindakan aborsi paksa Novia Widyasari hingga berujung pada kematiannya," terang Yenny.

Kemudian, pihak Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari juga memandang perlu adanya tindaklanjut dan penelusuran atas informasi-informasi penting yang dapat diakses oleh penyidik dari telepon seluler milik almarhumah Novia yang saat ini berada ditangan penyidik.

"Sampai saat ini, Tim Advokasi memandang hal ini belum dilakukan, dibuktikan dengan belum adanya pemeriksaan terhadap teman-teman curhat Novia yang banyak berkomunikasi dengan Novia dan menerima informasi, termasuk tangkapan layar pembicaran Novia dengan sejumlah pihak via chat Whatsapp," beber Yenny.

Kelima, pihak Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari juga meminta Kompolnas RI untuk turut mendesak Polda Jawa Timur agar terbuka dalam proses penyidikan. Termasuk memberikan respon atas permintaan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang diajukan oleh Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari.

Keenam, Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari meminta agar Polri dalam hal ini Polda Jawa Timur untuk memberikan pernyataan yang benar terkait pemberhentian tidak dengan hormat Bripda Randy Bagus Hari Sasongko.

Menurutnya, hal ini penting dilakukan karena terdapat sejumlah pernyataan dari pejabat Polri yang menyatakan bahwa Randy telah diberhentikan dari dinas Polri, namun faktanya proses pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik anggota Polri masih berjalan.

"Hal ini berarti bahwa Randy masih berstatus sebagai anggota Polri aktif dan belum diberhentikan," terang Yenny.

Dan harapan pengadu: 1. Agar cepat di beri pemberitahuan SP2HP dalam kasus tersebut; 2. Mendapatkan kejelasan  terkait laporan korban Novia ke Propam Polres Pasuruan kenapa tidak di tindak lanjuti; dan 3. Penyidik bekerja secara professional sehingga tercapainya keadilan untuk Novia Widiasari.

"Baik perkara pidananya, maupun pelanggaran kode etik profesi kepolisian yang dilakukan oleh Randy Bagus Hari Sasongko," pungkas Yenny. 

Sementara itu, atas masukan yang diberikan oleh Tim Advokasi Keadilan untuk Novia Widyasari, pihak Kompolnas RI menjanjikan akan segera berkirim surat kepada jajaran Polda Jawa Timur untuk segera mengungkap dengan tuntas terkait kasus kekerasan seksual yang dialami Novia Widyasari. Kompolnas akan secepatnya memberikan pelayanan untuk pihak keluarga untuk bertemu langsung dengan pihak Ditreskrimum dan Polres Pasuruan mengenai keluhan keluarga Korban dan kuasa hukum Korban. Dan Kompolnas akan melakukan klarifikasi secepatnya mengenai aduan ini, apakah penyidik sudah bekerja dengan baik atau tidak. [TA/Zf]