5 Anggota Polsek Lubuklinggau Utara Terduga Penganiaya Tahanan Dinonaktifkan

5 Anggota Polsek Lubuklinggau Utara Terduga Penganiaya Tahanan Dinonaktifkan

Sumatera - Seorang tahanan kasus pencurian di Polsek Lubuklinggau Utara, Sumatera Selatan, bernama Hermanto (54) tewas diduga dianiaya oleh lima anggota polisi.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Harissandi membenarkan adanya dugaan kasus tersebut, ia mengatakan kelima anggota polisi itu telah dinonaktifkan dan sedang dalam pemeriksaan profesi dan pengaman kepolisian (Propam) di Polres Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

"Untuk sementara jabatan anggota yang melakukan pelanggaran ini dinonaktifkan sementara. Jadi mereka yang melakukan pelanggaran kita nonaktifkan," ujar AKBP Harissandi, Kamis (17/2/2022), dikutip dari Tribun.

Harissandi menyebutkan, total ada enam anggota Polsek Lubuklinggau Utara yang diduga terlibat penganiayan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, satu orang statusnya tidak terlibat.

Lebih lanjut, Harissandi menegaskan, kasus ini akan ditangani secara transparan dan tidak pandang bulu apabila jajarannya terbukti melakukan pelanggaran.

"Karena sesuai dengan motto Polri memberikan pelayanan kepada masyarakat," tegasnya.

Menurut informasi yang diiperoleh, Hermanto merupakan seorang tahanan kasus pencurian di Polsek Lubuklinggau Utara.

Hermanto ditangkap polisi pada Senin (14/2/2022) lalu. Namun, sehari setelah penangkapan, ia justru tewas dengan kondisi lebam di sekujur tubuh.

Di lain pihak, adik Hermanto, Kahar mengungkapkan, keluarganya mengaku terkejut mendengar kabar bahwa kakak kandungnya tewas dengan kondisi mengenaskan.

Ia menceritakan, anak kedua Hermanto sempat datang ke Polsek mengantar makanan untuk sang ayah tetapi ditolak oleh polisi.

Selanjutnya, Kahar menceritakan, anak kedua Hermanto sempat datang ke Polsek mengantar makanan untuk sang ayah, namun ditolak oleh polisi.

"Anaknya tidak boleh bertemu dengan ayahnya dengan alasan sudah dikasih makan," ungkap Kahar.

Setelah itu, tak lama berselang, pihak keluarga malah menerima kabar dari Ketua RT bahwa Hermanto telah meninggal dan sudah dibawa ke RS Dr Sobirin.

Pihak keluarga langsung menuju ke rumah. Setibanya di rumah sakit, pihak keluarga sempat dilarang pihak rumah sakit untuk melihat jenazah.

Namun setelah melihat kondisinya, mereka sangat terkejut karena keluarga melihat kondisi tubuh Hermanto penuh dengan luka lebam.

"Lalu dibawa ke rumah duka, ketika dilihat banyak bekas luka lebam dan patah. Padahal saat ditangkap Hermanto sehat," ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, Hermanto mengalami luka patah di leher, patah kaki, luka di tangan, hidung patah, bibirnya pecah, dan memar di bagian punggung.

"Karena penasaran ada kejanggalan, karena banyak luka lebam dan banyak luka, keluarga kemudian berunding kembali dan membawa Hermanto untuk dilakukan visum," paparnya [kp]