Home / Berita Kompolnas / Kompolnas Berharap Novel Baswedan Bantu Proses Penyelidikan Polisi

Kompolnas Berharap Novel Baswedan Bantu Proses Penyelidikan Polisi

JAKARTA — Komisioner Kompolnas Poengky Indarti mengharapkan Novel Baswedan segera cepat pulih. Kesembuhan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini diharapkan dapat membantu proses penyelidikan kepolisian.

“Terkait dengan kondisi Pak Novel, diharapkan beliau dapat segera pulih, agar dapat memberikan keterangan yang dibutuhkan polisi,” ujar Poengky saat dihubungi di Jakarta, Ahad (5/5).

Poengky juga meminta kerja sama masyarakat agar bisa membantu proses penyelidikan tersebut dengan cara memberikan informasi apa saja kepada polisi.

Menurutnya dengan bantuan masyarakat informasi sekecil apapun sangat membantu kepolisian untuk perkembangan penyelidikan. Bila banyak fakta yang terkumpulkan kata dia, penyidik dapat segera mengungkapkan siapa pelaku penyiraman air keras pada penyidik kasus korupsi KTP elektronik tersebut.

“Jika masyarakat ada yg melihat sendiri, menyaksikan sendiri dan mengalami sendiri berada di TKP saat kasus terjadi, dipersilahkan memberikan bantuannya kepada pihak Kepolisian agar kasus dapat segera diungkap,” jelasnya.

Hampir satu bulan sejak peristiwa penyiraman air keras itu polisi mencari tahu siapa pelakunya. Sempat juga mereka melakukan pemeriksaan kepada dua orang warga yang diduga terekam dalam kamera CCTV rumah Novel.

Sayangnya pasca pemeriksaan dua orang tersebut diduga tidak ada hubungannya dengan kasus air keras yang mengakibatkan Novel harus menjalani operasi mata. Sehingga penyidik pun harus mengembalikan dua orang itu ke rumahnya.

Setelah itu hampir tidak ada perkembangan dari kasus penyiraman Novel. Hingga muncul anggapan polisi terkesan lamban dalam mencari siapa pelaku penyiraman itu.

Tak berapa lama dari kasus itu, muncul kasus buronnya mantan anggota komisi II DPR RI Miryam yang juga tersandung kasus KTP elektronik. Polisi pun membentuk satgas untuk mencari tersangka pemberi keterangan palsu pengungkapan kasus KTP elektronik itu.

Beruntung, Miryam yang baru empat hari menjadi buronan segera ditemukan. Miryam ditemukan di Grand Kemang, Jakarta pusat.

Saat dibandingkan dengan satgas pencari Miryam dengan satgas pencari pelaku penyiraman Novel, Kompolnas Keberatan. Menurutnya tidak bisa kedua kasus tersebut dibandingkan.

“Itu dua hal yang berbeda. Kalau Miryam kan sudah jelas orangnya, tinggal dilacak dengan bantuan teknologi. Sedangkan pelaku penyiraman kepada Pak Novel kan belum diketahui orangnya,” ujar Poengky menerangkan tingkat kesulitannya.

Oleh karena itu kata dia, dua kasus tersebut tidak bisa dibandingkan penanganannya. Pun dengan kasus Pulomas, kasus Novel ini juga menurutnya tidak bisa dibandingkan .

“Karena (Pulomas) ada bantuan kamera CCTV yang bisa mengidentifikasi wajah pelaku dengan jelas. Sedangkan dalam kasus Pak Novel, wajah pelaku tidak jelas,” katanya.

Kendati demikian kata dia, penyidik dalam mengembangkan kasus penyiraman air keras ini tidak hanya melulu dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Penyidik juga melakukan pengecekan dan pemeriksaan pada pekerjaan-pekerjaan Novel yang selama ini berkaitan dengan pengungkapan kasus tindak pidana korupsi.

“Tim penyidik mengembangkan penyelidikan juga dengan mengecek orang-orang yang potensial melakukan penyerangan ini terkait dengan kerjaan-kerjaan Pak Novel mengungkap kasus-kasus korupsi,” jelasnya.

[Mabruroh/Bayu/republika.co.id]