Home / Berita Kompolnas / Pecat dan Bui Perwira Polda Sumsel yang Terima Suap Rekrutmen Polri

Pecat dan Bui Perwira Polda Sumsel yang Terima Suap Rekrutmen Polri

Jakarta – Empat perwira Polda Sumatera Selatan (Sumsel) dicopot dari jabatanya. Mereka diduga kuat menerima suap dalam proses rekrutmen masuk Polri pada 2016. Tidak hanya itu saja, mereka juga diduga menerima suap dari proses seleksi anggota polisi yang ingin bersekolah.

Perwira polisi itu yakni Kombes Pol drg Soesilo Pradoto, AKBP Deni Dharmapala, AKBP Edya Kurnia, AKBP M Thoat Achmad. Serta tiga orang bintara Bripka Is, Bripka NH, dan Bripka D. Mabes Polri akan melakukan sidang kode etik untuk mereka.

Tapi ada baiknya Mabes Polri tak hanya berhenti di sidang etik saja. Polri harus membuktikan semangat bersih-bersih di bawah Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Pecat dan pidanakan perwira polisi itu.

“Kasus di Polda Sumsel mencerminkan bahwa masih ada saja fakta walau tidak dapat dipukul rata atau generalisir, kalau masuk Polisi atau mau sekolah dilingkungan Polri, membutuhkan dan menggunakan sejumlah uang yang tidak sah. Terlepas nantinya uang itu alirannya kemana,” jelas Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Andrea H Poeloengan, Selasa (4/4).

Menurut Andrea, lewat pengungkapan kasus di Polda Sumsel ini, menjadi bukti bahwa Polri berupaya mau melakukan bersih-bersih internal dari perbuatan yang tidak patut atau melawan hukum.

“Untuk itu minggu ini salah satu dari Komisioner Kompolnas akan melakukan monitoring, datang ke Polda Sumsel. Kehadiran Kompolnas untuk memberikan apresiasi kepada Polri juga memastikan dan mendukung Polri, bahwa tidak hanya pelanggaran disiplin atau kode etik saja tetapi kental unsur dugaan Pidana Korupsi (Tipikor) dan Pencucian Uang (TPPU), bahkan mungkin juga kombinasi dari kesemuanya,” urai Andrea.

Satu keyakinan Andrea, bahwa yang terjadi di Polda Sumsel ini adalah dugaan tindak pidana yang terorganisir dan melibatkan beberapa pihak. Untuk itulah dia berharap, jika memang serius jajaran Mabes Polri agar segera mendahulukan proses Sidik dugaan Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang.

“‘Follow the money’, dan jangan berhenti sampai dengan mereka yang ditangkap saja, cari lagi alirannya ke mana, sudah berapa lama berlangsung? Adakah modus serupa atau kaitannya dengan di polda-polda lainnya? Buka rekening mereka,” ungkap Andrea.

Kemudian, dalam kasus di Polda Sumsel, Kapolda dan Kabid Propam perlu diberi penghargaan atas jasanya sebagai yang mengungkap pada saat awal, karena ini bukan operasi tangkap tangan. Untuk menghargai keberanian mereka maka Kapolri selain mempercepat proses penyidikan Pidana, juga harus segera memecat mereka yang terlibat.

“Karena sekali lagi dugaan Tipikor dan TPPU unsurnya sangat kental. Malu jika tidak segera disidik pidana dan dipecat, karena Polri sukses dalam OTT terkait Pungli, Polri sukses dlm menindak penyidiknya yang terima suap, maka untuk kejadian seperti di Polda Sumsel ini adalah momentum agar terjadi pembersihan total di jajaran SDM Polri,” urai Andrea.

Tidak hanya itu saja, dia berharap kasus serupa yang mungkin saja terjadi pada seleksi atau proses penerimaannya ditempat lain, ditanggapi dengan serius hingga akar-akarnya.

“Seandainya dari kasus di Polda Sumsel ada yang sudah bergabung jadi anggota Polri dan/atau diterima di pendidikan Polri, maka agar segera dibatalkan surat keputusan penerimaannya dan jadikan juga tersangka pasal 55 KUHP karena turut serta, kecuali yang bersangkutan diperas dan dipaksa oleh oknum anggota/pejabat Polri,” tegas dia.

“Perlu dicatat karena yang diduga pelaku adalah ada anggota Polri, maka hukuman untuk Tipikor dan TPPU-nya harus ditambah ⅓ lebih lama. Pasalnya, Pasal 12 huruf a atau b (pegawai negeri yang menerima hadiah atau janji), ancaman hukuman minimal 4 tahun maksimal 20 tahun. Pasal 5 Ayat 2 (pegawai negeri menerima suap), ancaman hukuman minimal 1 tahun, maksimal 5 tahun. Pasal 11 (pegawai negeri menerima sesuatu) , ancaman hukuman minimal 3 tahun, maksimal 5 tahun pasal 12B ( gratifikasi), ancaman hukuman minimal 4 tahun, maksimal 20 tahun,” beber Andrea.

[sumber: kumparan.com]