Home / Berita Polri / Cara Kontingen Indonesia Hapus Penat Selama Misi Perdamaian di Sudan

Cara Kontingen Indonesia Hapus Penat Selama Misi Perdamaian di Sudan

JAKARTA, KOMPAS.com – Bekerja di negeri orang dengan kegiatan beresiko tinggi kadang membuat perwakilan Polri di Sudan jengah dengan rutinitas. Terlebih lagi, di sana tidak ada tempat hiburan seperti yang banyak ditemui di Indonesia.

Toko besar pun tak ada, hanya pasar tradisional dan toko-toko kecil untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kultur di sana juga jauh berbeda dengan negeri sendiri.

“Masyarakatnya berbeda, pendekatannya berbeda, jadi jauh lebih kompleks dari sini (Indonesia),” ujar Kepala Satgas FPU ke-8 AKBP John Huntal Sitanggang di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Beberapa bulan pertama dirasa sulit untuk beradaptasi. Namun, akhirnya mereka terbiasa mencari sendiri hiburan untuk melepas penat. Dengan kondisi seadanya, mereka berusaha menyulap Garuda Camp, tempat mereka tinggal selama setahun, menjadi “pusat hiburan”.

(Baca: Cerita Kontingen Polri yang Bertugas di Wilayah dengan Kriminalitas Tinggi di Sudan)

John mengatakan, biasanya mereka menonton film bersama, bermain gitar sambil bernyanyi, hingga berjoget. Bahkan, joget “poco-poco” khas Indonesia terkenal di masyarakat sekitar perkemahan mereka karena kerap diajak menari bersama.

“Kita adakan tarian Gemu Famire Maumere bareng, poco-poco kita di sana tuh sudah terkenal. Jadi kita ajarkan di sana,” kata John.

John mengatakan, pendekatan yang mereka lakukan kepada warga sekitar yakni dengan mengajak berinteraksi bersama. Termasuk bermain beragam pertandingan seperti sepak bola dan bulu tangkis.

Menurut dia, sangat penting membangun relasi dengan masyarakat sekitar agar merasa seperti di rumah sendiri.

(Baca: Tertahan 40 Hari di Sudan, Empat Polisi Tunda Pernikahan)

“Dengan masyarakat kita berkali-kali mengadakan kegiatan charity yang berkaitan dengan kemanusian dengan tujuan agar kita diterima di tempat bertugas,” kata dia.

Begitu kontingen FPU 8 meninggalkan El Fasher dan diganti dengan tim baru, banyak testimonial positif yang ditinggalkan masyarakat sekitar dan juga perwakilan polisi dari negara lain.

Perwakilan Indonesia, kata John, juga kerap mendapat pujian dari dari UNAID dan PBB karena dianggap cepat tanggap, mudah berbaur, dan mengamankan zona dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Sudan dengan baik.