Home / Berita Kompolnas / Kompolnas Harap Polri Jamin Karier Pasukan yang Pulang dari Sudan

Kompolnas Harap Polri Jamin Karier Pasukan yang Pulang dari Sudan

Khartoum – Personel Polri yang tergabung dalam pasukan perdamaian Formed Police Unit (FPU) VIII Indonesia kini segera tiba di Indonesia setelah sempat ditahan otoritas Sudan. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) berharap Polri bisa menjamin karier para pasukan polisi perdamaian yang telah menjalankan misi PBB itu.

“Kompolnas berharap Polri dapat memberikan perhatian kepada FPU VIII, khususnya bagi keberlanjutan pembinaan karier dan pendidikannya,” kata Kompolnas dalam keterangan yang diterima detikcom, Minggu (5/3/2017).

Keterangan ini dibuat oleh tiga komisioner Kompolnas di Ibu Kota Sudan, Khartoum. Tiga komisioner itu adalah Bekto Suprapto, Andrea Hynan Poeloengan, dan Poengky Indarti.

“Kompolnas menyambut gembira kepulangan Kontingen FPU 8 Polri yang telah bergugas sebagai pasukan perdamaian di El Fasher, Darfur Utara,” kata mereka.

Kompolnas menjelaskan investigasi gabungan dengan berbagai unsur membuktikan bahwa para kontingen dari Indonesia itu tidak menyelundupkan senjata. Pemerintah Indonesia telah melakukan pencarian fakta administratif lebih dari sebulan, memeriksa saksi-saksi, dan membuktikan bahwa personel kontingen Indonesia tak bersalah. Akhirnya

Oleh karena itu UNAMID dan kemudian Pemerintah Sudan mempersilahkan FPU 8 pulang ke tanah air. African Union-United Nations Mission in Darfur (Unamid) yang menaungi FPU VIII itu kemudian mempersilakan kontingen FPU VIII untuk pulang ke Indonesia.

“Sesungguhnya kontingen FPU VIII adalah pahlawan perdamaian yang menjadi korban fitnah dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab,” kata mereka.

Sebelumnya, FPU VIII dijadwalkan pulang pada 27 Desember 2016, namun ditunda gara-gara ada kebutuhan dari Unamid. Maka mereka dijadwalkan pulang pada 21 Januari 2017. Namun mereka baru bisa pulang ke Indonesia pada 4 Maret kemarin.

Soal tuduhan penyelundupan senjata yang dilakukan FPU VIII, Kompolnas memastikan bahwa masalah ini sudah selesai. Investigasi gabungan membuktikan senjata-senjata itu bukanlah milik FPU VIII dari Indonesia.

“Dari hasil Administrative Fact Finding tersebut tidak ditemukan bukti-bukti yang cukup akan keterlibatan FPU VIII, baik individual maupun institusi, dalam kasus penyelundupan senjata di Bandara El Fasher,” kata mereka.

Alih-alih menyelundupkan senjata, kontingen Indonesia bahkan mendapat pujian dari para pejabat Unamid, bahwa PFU VIII merupakan kontingen terbaik.

(dnu/dnu/detik.com)